Diperlukan Kasih (Roma 15:1-6)

Ringkasan khotbah ibadah Minggu, 8 November 2020 (Pagi)

Oleh Pdt. Jefry Tuwatanassy (GBT Kristus Alfa Omega, Ngoro, Jombang)

Tuhan menginginkan kita untuk sehati menuruti teladan Kristus (ay. 5). Sehati berarti bersatu hati atau seia sekata. Tetapi, kita berbeda-beda (gender, suku, bahkan kedewasaan rohani). Bagaimana caranya untuk sehati di tengah perbedaan itu? Jawabannya adalah diperlukan kasih, seperti halnya teladan Tuhan Yesus. Berdasarkan bagian ini, kasih berarti “bersedia merelakan kepentingan diri sendiri dengan mendahulukan kepentingan orang lain.” Ada tiga bentuk tindakan kasih dalam bagian ini.

Pertama, bersabar terhadap keberatan-keberatan, keyakinan-keyakinan, dan prinsip-prinsip hidup orang yang lemah imannya (ay. 1). Misalnya, pandangan beberapa orang bahwa makan daging persembahan berhala itu dosa (1Kor. 8:13). Bersabar memiliki nuansa waktu yang panjang dan juga permakluman. Bukan berarti selalu menyetujui prinsip hidup orang lain. Tetapi, rela menunggu waktu yang panjang untuk orang lain memahami. Kemudian, memakluminya bukan malah mempertengkarkannya (Rm. 14:1).

Kedua, menyenangkan hati sesama supaya keyakinannya bertambah kuat (ay. 2). Contohnya, melalui pemberian atau kata-kata semangat. Angkat hal-hal positif ke permukaan supaya orang menjadi semangat.

Ketiga, memikirkan kesenangan orang lain (ay. 3). Lakukanlah apa yang membuat orang lain senang (Mat. 7:12). Kunci untuk bisa melakukan ketiga hal ini adalah memohon pertolongan dari Allah (ay. 5).

REFLEKSI

Banyak organisasi, gereja, bahkan keluarga terpecah karena mengedepankan perbedaan. Tetapi, Alkitab mengajarkan kita untuk mengedepankan kasih supaya kesatuan hati senantiasa terwujud.

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Apa bedanya kasih Kristen dengan kasih yang lain?
  2. Dari ketiga bentuk tindakan kasih yang dibahas dalam khotbah ini, apa tindakan nyata yang bisa Anda lakukan dalam lingkungan: keluarga, pekerjaan, dan gereja Anda?

AYAT ALKITAB TERKAIT

1 Senangkanlah orang lain, jangan dirimu sendiri. Kita yang sungguh-sungguh yakin akan apa yang kita percayai, haruslah bersabar terhadap keberatan-keberatan orang yang lemah keyakinannya. Janganlah kita mau menyenangkan diri kita sendiri saja. 2 Sebaliknya kita masing-masing harus menyenangkan hati sesama saudara kita untuk kebaikannya, supaya keyakinannya bertambah kuat. 3 Sebab Kristus pun tidak memikirkan kesenangan diri-Nya sendiri. Di dalam Alkitab tertulis begini, “Segala celaan yang ditujukan kepada-Mu telah jatuh ke atasku.” 4 Semua yang tersurat di dalam Alkitab adalah untuk mengajar kita. Sebab pelajaran yang kita terima dari Alkitab menjadikan kita tabah dan kuat sehingga kita dapat berharap kepada Allah. 5 Semoga Allah, yang memberikan ketabahan dan penghiburan kepada manusia, menolong kalian untuk hidup dengan sehati, menuruti teladan Kristus Yesus. 6 Dengan sehati Saudara semuanya bersama-sama dapat memuji Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. (Rm. 15:1-6 BIMK)

Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku. (1Kor. 8:13)

Janganlah menyalahkan saudaramu Orang yang tidak yakin akan apa yang dipercayainya harus diterima dengan baik di antara Saudara-saudara. Jangan bertengkar dengan dia mengenai pendirian-pendiriannya. (Rm. 14:1 BIMK)

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Mat. 7:12)

About the author

Leave a Reply