Hikmat, Tongkat dan Teguran (Ams. 1:7)

Khotbah Ibadah Minggu, 25 Oktober 2020 (Sore) oleh Pdt. Andreas Hauw (STT SAAT Malang)

Dari mana datangnya hikmat? Menurut Sun Tzu, seorang filsuf Tiongkok kuno, hikmat berasal dari mengenal diri sendiri. Namun Alkitab menyatakan bahwa hikmat bukanlah tentang mengenal diri dengan sebaik-baiknya, melainkan apa yang Tuhan mau. Hikmat berasal dari takut akan Tuhan (Ams. 1:7), yaitu menghormati Tuhan. Hikmat (biasa disebut juga dengan akal budi) adalah gabungan dari pikiran (akal) dan perasaan (budi) yang muncul dalam tingkah laku, di mana pendorong utamanya adalah Tuhan. Orang berhikmat adalah orang yang pikiran dan tingkah lakunya didorong oleh Tuhan, sehingga mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Orang seperti ini tidak akan terperdaya oleh maksud jahat.

Apa hubungannya antara hikmat dengan tongkat dan teguran? Istilah “tongkat” dan teguran yang dipakai dalam kitab Amsal merupakan gambaran dari hukuman. Teguran menggambarkan kata-kata, sementara tongkat menggambarkan tindakan fisik. Apa fungsinya? Pertama, Teguran dan tongkat merupakan alat untuk mengajarkan hikmat (Ams. 10:13). Kedua, dipakai untuk mengoreksi, menjadikan sesuatu itu baik, indah dan bermanfaat, serta mengusir kebodohan (Ams. 13:24; 22:15). Ketiga, mengajarkan kejujuran (Ams. 27:5; Pkh. 7:5).

Di dalam Mzm. 23:5, “tongkat” dari Sang Gembala merupakan “tongkat pastoral” yang membuat kita tidak takut. Tongkat dan teguran membuat manusia bisa berjalan dengan aman di dalam hidup ini, namun tidak akan mampu menyelamatkannya. Kita adalah domba yang bodoh, yang harus terus menerus diberi tongkat dan teguran. Namun demikian, Tuhan Yesus menanggung tongkat murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada kita. Dia akan menegur kita dengan kasih. Teguran memang menyakitkan, tetapi bermanfaat karena mengikis hal-hal yang buruk dalam diri kita.

REFLEKSI

Bersyukurlah jika mendapat teguran dari Tuhan, atau dari orang-orang sekitar kita, karena jika direpons dengan baik, itu semua akan mendatangkan manfaat bagi hidup kita.

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Apakah mungkin manusia mendapat hikmat tanpa melalui “tongkat” dan teguran? Mengapa demikian?
  2. Bagaimana pandangan Anda mengenai pemberian hukuman fisik kepada anak?

AYAT ALKITAB PENDUKUNG

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. (Ams. 1:7)

Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi. (Ams. 10:13)

Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya. (Ams. 13:24)

Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya. (Ams. 22:15)

Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi. (Ams. 27:5)

Mendengar hardikan orang berhikmat lebih baik dari pada mendengar nyanyian orang bodoh. (Pkh. 7:5)

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (Mzm. 23:5)

About the author

Leave a Reply