Minggu Adventus III: Imanuel (Yes. 7:10-16)

Ibadah Minggu, 13 Desember 2020 (Sore)

Oleh Pdt. Vivian Soesilo (GBT Kristus Pelepas Malang)

Ketika raja dan orang-orang Yehuda ketakutan karena ancaman serangan koalisi kerajaan Israel dan Siria, Tuhan menyampaikan sebuah pesan kepada Raja Ahas. Melalui Yesaya, Tuhan menguatkan mereka bahwa kedua kerajaan tersebut seperti “puntung api yagn berasap” (ay. 4). Artinya, kedua kerajaan tersebut tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Keduanya tidak akan bertahan sehingga tidak perlu ditakuti oleh orang-orang Yehuda.

Tuhan meminta supaya Raja Ahas teguh percaya (ay. 9). Mengingat situasinya yang sulit, Tuhan tahu hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Maka dari itu, Yesaya menyuruh Raja Ahas untuk meminta tanda dari Tuhan. Sayangnya, Raja Ahas menolaknya (ay. 12). Memang betul bahwa kita tidak boleh mencobai Tuhan. Tetapi, jawaban Raja Ahas ini menunjukkan bahwa dia ingin meminta bantuan dari raja Asyur, bukan Tuhan.

Padahal, sebelumnya Tuhan sudah memberikan tanda melalui kedua anak Yesaya. Yang pertama dinamai Syear-Yasub (“beberapa akan kembali”). Ini menunjukkan adanya orang-orang yang akan kembali dari pembuangan. Kemudian, Maher-Syalal Hash-Bas (“perampasan yang tangkas, perampokan yang cepat”). Ini menunjukkan bahwa akan ada barang-barang yang dibawa keluar dari Samaria, ibukota Israel. Jadi, Israel tidak akan bertahan.

Jawaban Raja Ahas tersebut membuat Tuhan murka sehingga Dia memberikan tanda dalam bentuk kelahiran Imanuel (nantinya secara penuh diwujudkan melalui kelahiran Tuhan Yesus). Peristiwa ini menunjukkan bahwa penyertaan Tuhan tidak selalu diterima oleh orang. Maukah kita percaya pada Tuhan di masa yang genting, dan bukannya meminta tolong pada pihak lain? Tuhan akan menyertai kita dalam segala keadaan. Amin.

REFLEKSI

Ada berbagai sumber pertolongan yang biasa disandarkan orang-orang di dunia ini ketika mereka menghadapi masalah. Tetapi, kita memiliki sumber pertolongan yang tidak pernah gagal, yaitu Tuhan sendiri.

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Apakah kita juga perlu meminta tanda dari Tuhan dalam menghadapi permasalahan hidup sehari-hari saat ini? Jelaskan jawaban Anda!
  2. Apakah dengan meminta tolong pada Tuhan, berarti kita mengabaikan pertolongan dari sesama manusia? Jelaskan jawaban Anda!

AYAT ALKITAB TERKAIT

10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 11 “Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.” 12 Tetapi Ahas menjawab: “Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN.” 13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: “Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? 14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. 15 Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16 sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. (Yes. 7:10-16)

Berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya: “Baiklah engkau keluar menemui Ahas, engkau dan Syear Yasyub, anakmu laki-laki, ke ujung saluran kolam atas, ke jalan raya pada Padang Tukang Penatu,” (Yes. 7:3)

Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Ambillah sebuah batu tulis besar dan tuliskanlah di atasnya dengan tulisan biasa: Maher-Syalal Hash-Bas.” (Yes. 8:1)

About the author

Leave a Reply