Ibadah Umum I, 2 Maret 2025. Oleh: Pdt. Stephen Leonard.
Ketika Tuhan memanggil kita sebagai terang, maka Dia menginginkan kita untuk memancarkan cahaya-Nya. Panggilan sebagai terang ini otomatis terjadi ketika kita mengaku percaya kepada-Nya. Tuhan menaruh terang-Nya di dalam diri kita, yang akan membuat orang tertarik dengan hidup kita (Mat. 5:14-16).
Tuhan merindukan supaya kita terhubung dengan-Nya. Maka, kerinduan kita terhadap Tuhan menjadi cara yang paling mudah untuk menerangi dunia ini, yaitu sikap merindukan Tuhan (Mzm. 42:2-5). Kerinduan tersebut akan diwujudkan melalui tindakan kita, yaitu berjuang untuk mendekat kepada Tuhan.
Pernahkah kita merindukan Tuhan dan merindukan beribadah kepada-Nya, dengan hati yang hancur? Kapan terakhir kali kita merindukan-Nya? Ingatlah bahwa Tuhan layak untuk kita puja. Tuhan sungguh rindu untuk bersekutu dengan kita (Luk. 13:34).
Pada saat orang-orang percaya berkumpul, maka itu akan membuat orang-orang di luar tertarik. Tuhan ingin supaya kita menyebarkan terang-Nya. Suatu saat, kita semua akan berkumpul bersama Tuhan di dalam kekekalan (Why. 22:3-5).
Tunjukkanlah bahwa kita benar-benar mengasihi Tuhan. Kembalilah kepada kasih mula-mula, beribadah dengan antusias, sehingga orang lain sadar kita mengasihi Tuhan (Mzm. 84:2-5). Biarlah terang Tuhan kita pancarkan, bukan kita sembunyikan. Amin.
REFLEKSI
Ibadah sesungguhnya adalah tentang merindukan Tuhan (John D. Barry)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa saja yang bisa membuat kerinduan kita kepada Tuhan memudar?
- Bagaimana Anda bisa memancarkan terang Tuhan dalam lingkungan pergaulan Anda?
REFERENSI
”Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya. (Luk. 11:33)
14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat. 5:14-16)
2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair,
demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
3 Jiwaku haus kepada Allah,
kepada Allah yang hidup.
Bilakah aku boleh datang
melihat Allah?
4 Air mataku menjadi makananku
siang dan malam,
karena sepanjang hari orang berkata kepadaku:
”Di mana Allahmu?”
5 Inilah yang hendak kuingat,
sementara jiwaku gundah gulana;
bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia,
mendahului mereka melangkah ke rumah Allah
dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur,
dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan. (Mzm. 42:2-5)
Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. (Luk. 13:34)
3 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, 4 dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka. 5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. (Why. 22:3-5)
2 Betapa disenangi tempat kediaman-Mu,
ya TUHAN semesta alam!
3 Jiwaku hancur karena merindukan
pelataran-pelataran TUHAN;
hatiku dan dagingku bersorak-sorai
kepada Allah yang hidup.
4 Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah,
dan burung layang-layang sebuah sarang,
tempat menaruh anak-anaknya,
pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam,
ya Rajaku dan Allahku!
5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu,
yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela (Mzm. 84:2-5)
