Ibadah Umum II, 27 April 2025. Oleh: Pdt. Nyoman Widiantara.
Ketika Yesus disalib, terlihat ada dua kelompok orang yang bersedih. Pertama, murid-murid, terutama Petrus (Mat. 26:75). Kedua, para wanita, terutama Maria (Yoh. 19:25). Begitu juga di dunia sekarang ini akan selalu ada orang-orang yang mengalami penderitaan, walaupun tidak seberat Yesus. Apa yang bisa kita lakukan? Mari kita belajar dari Yesus.
Alkitab mencatat, Yesus menemani dua murid yang sedang melakukan perjalanan ke Emaus (Luk. 24:15). Kemudian, Yesus muncul beberapa kali di hadapan para murid (Yoh. 20:19, 26; 21:1-14). Yesus juga menampakkan diri kepada para wanita (Yoh. 20:14-16; Mat. 28:1; Luk. 24:10). Yesus hadir, menghibur, dan menguatkan hati orang-orang yang sedang berduka. Intinya, Yesus menjadi sahabat dalam duka.
Ketika kita ingin menguatkan seseorang, perhatikan bahwa kita perlu memperhatikan perkataan kita. Jangan sampai niat baik kita disampaikan dengan cara yang malah membuat orang yang bersedih semakin terpukul. Misalnya, menghakimi dan menyalahkan. Atau toxic positivity, yaitu mengharuskan orang tersebut untuk selalu positif, tidak memberi ruang untuk berduka. Kita harus peka dengan keadaan orang tersebut.
Kemudian, kita juga harus menguatkan orang yang berduka tidak hanya pada waktu kedukaan, tetapi setelahnya. Selain itu, ajak orang yang berduka itu mengalami Tuhan (mengingatkan kembali pada firman Tuhan). Mari kita menjadi berkat. Amin.
REFLEKSI
Seorang Kristen haruslah menjadi seorang penghibur, dengan kata-kata yang baik di mulutnya dan simpati di dalam hatinya; dia harus membawa sinar mentari ke manapun dia pergi, dan menebarkan sukacita di sekitarnya (Charles Spurgeon)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa saja yang bisa kita lakukan untuk menjadi sahabat dalam duka bagi orang yang memerlukan penghiburan? Sebaliknya, apa saja yang harus dihindari (sebagai tambahan dari apa yang dijelaskan dalam khotbah ini)?
- Adakah orang-orang di sekitar Anda yang saat ini sedang memerlukan penghiburan? Apakah yang dapat Anda lakukan untuk mereka?
REFERENSI
Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: ”Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Mat. 26:75)
Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. (Yoh. 19:25)
Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. (Luk. 24:15)
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ”Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh. 20:19)
Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ”Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh. 20:26)
14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 15 Kata Yesus kepadanya: ”Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: ”Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” 16 Kata Yesus kepadanya: ”Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: ”Rabuni!”, artinya Guru. (Yoh. 20:14-16)
Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. (Mat. 28:1)
Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul. (Luk. 24:10)
