Pengharapan di Tengah Pergumulan (Rm. 7:14-25; Mat. 11:28-30)

Ibadah Umum I, 5 Juli 2026. Oleh: Pdm. Nehemia Widjaja.

Di dalam budaya Romawi pada masa Paulus, ada pandangan di antara para filsuf bahwa manusia sering tidak menjalankan apa yang diketahuinya baik karena kurang pengetahuan. Sebaliknya, Paulus mengajarkan bahwa akar masalahnya bukan kurangnya pengetahuan, tetapi manusia sudah dikuasai dosa. Ketika manusia sudah dikuasai Roh Allah, maka baru bisa  bebas.

Ada beberapa pelajaran penting dari Roma 14-26 ini. Pertama-tama, Hukum Taurat itu berasal dari Allah, yang pasti baik. Jadi, masalahnya bukan pada Hukum Taurat, tetapi karena dosa manusia gagal melakukan yang baik. Ada peperangan batin dalam diri manusia. Dengan begitu, kemenangan atas dosa tidak lahir dari manusia. Solusinya hanya ada pada Kristus.

Ketika kita menyadari bahwa kita tidak sanggup menang atas dosa dengan kekuatan sendiri, Allah memanggil kita untuk mengatasinya dengan kuasa Kristus. Berhentilah untuk  memercayai diri kita sendiri, karena itu hanya akan membuat kita terus terhisap pada dosa lebih dalam.

Mungkin pada saat ini kita merasa terus gagal, walaupun sudah berkali-kali mencoba mengatasi dosa. Datanglah kepada Kristus sehingga kita akan memperoleh kesegaran (Mat. 11:28-30). Amin.

REFLEKSI

Allah lebih tertarik untuk melihat kita menemukan-Nya di tengah pergumulan hidup kita dibanding menjauhkan kita dengan pergumulan hidup (Edward E. Hidson)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Ada orang-orang non-Kristen yang terlihat mampu menguasai kebiasaan buruknya dengan kekuatan sendiri. Bagaimana pendapat Anda berdasarkan khotbah ini?
  2. Apa tanda-tandanya jika seorang Kristen masih mengandalkan kekuatan manusia untuk mengatasi dosa? Bagaimana dampaknya?

REFERENSI

Pertentangan dalam diri manusia

14 Kita tahu bahwa hukum agama Yahudi berasal dari Roh Allah; tetapi saya ini manusia lemah. Saya sudah dijual untuk menjadi hamba dosa. 15 Sebab saya sendiri tidak mengerti perbuatan saya. Hal-hal yang saya ingin lakukan, itu tidak saya lakukan; tetapi hal-hal yang saya benci, itu malah yang saya lakukan. 16 Nah, kalau saya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginan saya, itu berarti saya mengakui bahwa hukum agama Yahudi itu baik. 17 Jadi, bukan lagi saya sebenarnya yang melakukan itu, melainkan dosa yang menguasai diri saya. 18 Saya tahu bahwa tidak ada sesuatu pun yang baik di dalam diri saya; yaitu di dalam tabiat saya sebagai manusia. Sebab ada keinginan pada saya untuk berbuat baik, tetapi saya tidak sanggup menjalankannya. 19 Saya tidak melakukan yang baik yang saya ingin lakukan; sebaliknya saya melakukan hal-hal yang jahat, yang saya tidak mau lakukan. 20 Kalau saya melakukan hal-hal yang saya tidak mau lakukan, itu berarti bukanlah saya yang melakukan hal-hal itu, melainkan dosa yang menguasai diri saya.

21 Jadi, saya mengambil kesimpulan bahwa hukum inilah yang memegang peranan: yaitu bahwa kalau saya mau melakukan yang baik, maka hanya yang jahat saja yang timbul pada saya. 22 Batin saya suka akan hukum Allah, 23 tetapi saya sadar bahwa dalam diri saya ada pula hukum lain yang memegang peranan — yaitu hukum yang berlawanan dengan hukum yang diakui oleh akal budi saya. Itu sebabnya saya terikat pada hukum dosa yang memegang peranan di dalam diri saya. 24–26 Nah, beginilah keadaan saya: saya mentaati hukum Allah dengan akal budi saya, tetapi dengan tabiat manusia saya, saya takluk pada dosa. Alangkah celakanya saya ini! Siapakah yang mau menyelamatkan saya dari badan ini yang membawa saya kepada kematian? Syukur kepada Allah! Ia mau menyelamatkan saya melalui Yesus Kristus. (Rm. 7:14-26 BIMK)

28 “Datanglah kepada-Ku kamu semua yang lelah, dan merasakan beratnya beban; Aku akan menyegarkan kamu. 29 Ikutlah perintah-Ku dan belajarlah daripada-Ku. Sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati, maka kamu akan merasa segar. 30 Karena perintah-perintah-Ku menyenangkan, dan beban yang Kutanggungkan atasmu ringan.” (Mat. 11:28-30 BIMK)

About the author

Leave a Reply