Ibadah Minggu, 17 Mei 2020

Oleh Pdt. Andreas Hauw (STT SAAT)

Apa artinya damai sejahtera (Yunani: eirēnē; Ibrani: syalom)? Damai sejahtera yang diberikan oleh Tuhan Yesus adalah suatu keadaan baik yang penuh, tanpa sedikit pun kekurangan. Dalam bagian ini, kata syalom muncul dua kali. Yang pertama (ayat ke-19) ditujukan kepada para murid ketika Tuhan Yesus pertama kali menemui mereka. Yang kedua (ayat ke-21) dipakai dalam mengutus murid-murid untuk membawa syalom. Jadi, syalom membuat murid-murid bangkit dari ketakutan. Selain itu, mereka tidak hanya menerima syalom, tetapi juga diminta untuk menyebarkannya.

Syalom yang diberikan oleh Tuhan Yesus bukanlah sesuatu yang murahan. Tuhan Yesus harus mengalami penderitaan dan kematian sebelum mengenakan tubuh yang mulia setelah kebangkitan-Nya. Demikian juga Paulus menyatakan bahwa kita akan menerima tubuh seperti itu ketika kita dibangkitkan (1Kor. 15:43).

Perlu diperhatikan pula bahwa dalam peristiwa ini, Tuhan Yesus mengunjungi murid-murid-Nya. Ini menunjukkan bahwa ibadah bukan berarti kita melayani Tuhan, tetapi Tuhanlah yang melayani kita. Izinkanlah Tuhan juga melayani kita dalam masa-masa wabah ini. Oleh sebab itu, jangan sampai kita meninggalkan ibadah.

Bagaimana supaya kita dapat menerima syalom? Kita akan menerima syalom jika menerima Roh Kudus, yang menjadi Penolong bagi kita. Syalom juga terjadi ketika kita menerima pengampunan dosa. Menerima Roh Kudus dan menerima pengampunan dosa ini harus ada bersamaan, seperti dua sisi sebuah koin. Dengan demikian, kita sudah selayaknya menjadi alat supaya orang lain juga menerima pengampunan dari Tuhan. Yesaya dan Paulus menyatakan betapa indahnya orang-orang yang membawa syalom (Yes. 52:7; Rm. 10:15). Di tengah wabah ini, mari kita terus berharap pada Tuhan yang telah menjanjikan damai sejahtera.

REFLEKSI

Jika sumber syalom adalah Roh Kudus, maka di tengah kesulitan hidup yang menghadang, kita harus senantiasa bersandar pada-Nya dan bukan yang lain.

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Apakah bedanya antara kebahagiaan yang diberikan oleh dunia dengan damai sejahtera yang diberikan oleh Tuhan Yesus?
  2. Mengapa terkadang orang percaya bisa tidak merasakan damai sejahtera?

AYAT ALKITAB PENDUKUNG

19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” 20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. 21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” 22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh. 20:19-23)

Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. (1Kor. 15:43)

Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!” (Yes. 52:7)

Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rm. 10:15)

About the author

Leave a Reply