Ibadah Minggu, 31 Oktober 2021 (Pagi)

Oleh Ev. David Alinurdin (STT SAAT)

Iman sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dialami oleh Ishak, yang belajar mempraktikkan imannya kepada Tuhan di tengah berbagai ujian kehidupan. Ketika terjadi kelaparan di negerinya (ay. 1), dia pergi ke Mesir. Dia tidak berdoa dulu atau menanyakan kehendak Tuhan, namun hanya berpikir secara manusiawi untuk bertahan hidup.

Ketika baru sampai di Gerar, Tuhan menampakkan diri dan memberkati Ishak di situ sehingga dia tidak perlu ke Mesir (ay. 2). Di tengah penyertaan Tuhan itu, Ishak masih mengandalkan pikiran manusiawinya dengan berbohong untuk melindungi dirinya (ay. 7). Sekali lagi, Ishak gagal beriman. Namun Tuhan masih tetap memberkatinya. Ketika Ishak semakin kaya, dia diusir oleh orang-orang Filistin yang iri kepadanya (ay. 16).

Terbukti bahwa cara hidup yang tidak bergantung pada Tuhan tidak akan menghasilkan kedamaian. Sampai di kemudian hari, Ishak pergi ke Bersyeba. Tuhan kembali menguatkan Ishak bahwa Dia akan menyertai hidupnya, seperti Tuhan telah menyertai hidup Abraham (ay. 24). Ishak pun sadar untuk mengandalkan Tuhan, sehingga dia membangun mazbah (ay. 25).

Setelah Ishak menjalani hidup dengan penuh ketaatan, Tuhan berkenan padanya. Perubahan cara hidupnya itu menjadi daya tarik bagi orang-orang di sekitarnya yang kemudian menjalin relasi dengannya (ay. 26). Dia kemudian mampu menjadi berkat bagi orang lain. Tidak hanya itu, Ishak sendiri juga mendapat berkat yang dibuktikan dengan adanya air (ay. 32-33).

Apa yang kita lakukan ketika terbelit dalam permasalahan hidup yang berlarut-larut? Jangan pernah menggunakan akal pikiran kita untuk sekadar bertahan hidup. Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Maka, prioritaskan Tuhan dan jalankan kehendak-Ny. Maka, semuanya akan ditambahkan kepada kita (Mat. 6:33). Amin.

REFLEKSI

Jika kita tidak bisa percaya pada Tuhan dalam situasi sulit, maka sebenarnya kita tidak memiliki kepercayaan kepada-Nya sama sekali (Charles Spurgeon)

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Apa saja kesulitan yang pernah Anda hadapi untuk mengandalkan kehendak Tuhan dan bukannya cara pandang manusiawi?
  2. Apakah perbedaan yang akan kita alami ketika kita senantiasa hidup bersandar pada Tuhan?

AYAT ALKITAB TERKAIT

Maka timbullah kelaparan di negeri itu.  —  Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” Jadi tinggallah Ishak di Gerar. 7  Ketika orang-orang di tempat itu bertanya tentang isterinya, berkatalah ia: “Dia saudaraku,” sebab ia takut mengatakan: “Ia isteriku,” karena pikirnya: “Jangan-jangan aku dibunuh oleh penduduk tempat ini karena Ribka, sebab elok parasnya.”

12  Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13  Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.

22  Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: “Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.”  23  Dari situ ia pergi ke Bersyeba. 24  Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu.” 25  Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ. 26  Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. 28  Jawab mereka: “Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, 29  bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN.”

32  Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: “Kami telah mendapat air.” 33  Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang.

(Kej. 26)

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat. 6:33)

About the author

Leave a Reply