Ibadah Umum I, 23 Juni 2024. Oleh: Pdt. Ary Handoko.
Kata ibadah (TB) dalam ayat ini diterjemahkan menjadi kesalehan (TB2) karena keduanya terkait. Kesalehan artinya ketaatan dalam menjalankan ibadah atau kesungguhan dalam menunaikan ajaran agama. Ada banyak hal yang menguntunkan ketika kita melakukannya. Misalnya, memiliki kesehatan mental, pengharapan hidup, dan pertolongan Tuhan.
Jadi, ibadah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menghabiskan waktu atau alasan yang keliru lainnya. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dari ayat ini.
Pertama, jangan beribadah dengan motivasi keuntungan (ay. 5). Misalnya, beribadah dengan berharap menerima kembali berkali-kali lipat atau bertemu dengan kenalan-kenalan kita. Orang-orang yang motivasinya seperti ini tidak berpikiran sehat.
Kedua, beribadah itu mencintai Tuhan, bukan uang (ay. 9-10). Jadikan Tuhan dan firman-Nya sebagai yang utama dalam beribadah, bukan yang lain. Jika mati saja rela Tuhan Yesus lakukan bagi kita, maka Dia tidak akan mungkin membiarkan kita. Lakukan latihan-latihan rohani yang dapat menuntun kita untuk lebih mencintai Tuhan (misalnya, persembahan).
Ketiga, beribadah harus disertai rasa cukup (ay. 6). Artinya, tidak terjebak dalam keinginan yang berlebihan dan tidak dipengaruhi oleh kondisi material. Temukanlah kebahagiaan melalui relasi dengan Tuhan saja. Mari kita lakukan semua, maka ibadah akan membawa keuntungan yang besar. Amin.
REFLEKSI
Beribadah dengan benar… adalah dengan lahir baru oleh Roh Kudus melalui iman di dalam Yesus Kristus dan merelakan Roh Kudus untuk mengajar dan memampukan kita beribadah (A.W. Tozer)
PERTANYAAN DISKUSI
- Bagaimana tanggapan Anda ketika mendengar orang berkata, “Aku tidak mendapat apa-apa dalam ibadah.” Apa yang sebenarnya terjadi?
- Apakah ada motivasi dan sikap beribadah yang perlu Anda perbaiki? Berkomitmenlah untuk melakukannya dengan bantuan Roh Kudus.
REFERENSI
5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. 6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (1Tim. 6:6 TB)
5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira kesalehan itu adalah suatu sumber keuntungan. 6 Memang kesalehan itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (1Tim. 6:6 TB2)
2b Semuanya ini haruslah engkau ajarkan dan nasihatkan. 3 Barangsiapa mengajarkan ajaran yang lain daripada itu dan tidak setuju dengan ajaran yang benar dari Tuhan kita Yesus Kristus, dan dengan ajaran agama kita, 4 adalah orang yang sombong dan tidak tahu apa-apa! Penyakitnya ialah suka berdebat dan bertengkar mengenai istilah-istilah sehingga menimbulkan iri hati, perpecahan, fitnahan, curiga yang tidak baik, 5 dan perselisihan yang tidak habis-habisnya. Jalan pikiran orang-orang itu sudah buntu dan tidak lagi benar. Mereka menyangka bisa menjadi kaya dari agama.
6 Memang agama memberikan keuntungan yang besar, kalau orang puas dengan apa yang dipunyainya. 7 Sebab tidak ada sesuatu pun yang kita bawa ke dalam dunia ini, dan tidak ada sesuatu pun juga yang dapat kita bawa ke luar! 8 Jadi, kalau ada makanan dan pakaian, itu sudah cukup. 9 Tetapi orang yang mau menjadi kaya, tergoda dan terjerat oleh bermacam-macam keinginan yang bodoh dan yang merusak. Keinginan-keinginan itu membuat orang menjadi hancur dan celaka. 10 Sebab dari cinta akan uang, timbul segala macam kejahatan. Ada sebagian orang yang mengejar uang sehingga sudah tidak menuruti lagi ajaran Kristen, lalu mereka tertimpa banyak penderitaan yang menghancurkan hati mereka. (1Tim. 6:2b-10 BIMK)
