Ibadah Umum II, 3 September 2023. Oleh: Pdt. Gunaryo Sudarmanto.
Ayah adalah seorang tulang punggung keluarga. Namun seorang ayah tidak hanya berkewajiban untuk melindungi dan menafkahi keluarganya, namun juga bertanggung jawab terhadap Kristus. Jadi, seorang ayah harus taat kepada Tuhan.
Di dalam bagian ini dikisahkan tentang ketaatan Yusuf dan Maria dalam menggenapi rancangan Allah. Ada empat aspek ketaatan yang dinyatakan di dalamnya. Pertama, ketaatan sebagai tanda percaya. Yusuf menerima firman Tuhan walaupun tidak masuk akal. Ketaatan yang disertai iman seperti ini berbeda dengan ketaatan yang bersifat emosional belaka (atau hanya asal taat seperti orang-orang Farisi).
Kedua, ketaatan selalu diwujudkan dalam mengikut perintah Tuhan. Setelah percaya, Yusuf mengambil Maria dan mendampinginya ke Yerusalem (kemudian ke Mesir) sesuai perintah Tuhan. Menuruti firman Tuhan tidak berat (1Yoh. 5:3) asalkan didasarkan atas kasih kepada-Nya (Mat. 11:30).
Ketiga, ketaatan pasti rela berkurban. Yusuf tetap menuruti firman Tuhan walaupun dia harus mempertaruhkan nama baiknya untuk menerima Maria (Mat. 1:19). Setelah itupun dia harus mengalami berbagai macam kesulitan bersama Maria.
Terakhir, ketaatan menghasilkan berkat yang kekal. Hidup yang paling berharga adalah ketika kita terlibat dalam rencana Allah. Ini seperti Yusuf yang menjadi bagian dalam rencana keselamatan kekal manusia. Maka, temukan peran kita! Amin.
REFLEKSI
Allah adalah model tentang bagaimana berperan sebagai seorang ayah (William Barclay)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apakah sosok ayah yang taat kepada Tuhan akan membuat suasana keluarga terasa kaku dan mengekang? Jelaskan pendapat Anda!
- Apakah ada hal yang Anda belum bisa taat sepenuhnya kepada Tuhan? Bagaimana ini berdampak pada keluarga atau lingkungan terdekat Anda? Serahkan dan nyatakanlah komitmen kepada Tuhan untuk mau taat kepada-Nya.
REFERENSI
13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” 14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, 15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” (Mat. 2:13-15)
19 Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: 20 “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” 21 Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel. 22 Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. 23 Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret. (Mat. 2:19-23)
Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya (Mat. 1:24)
Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat (1Yoh. 5:3)
Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan. (Mat. 11:30)
Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. (Mat. 1:19)
