Ibadah Umum I, 11 Januari 2026. Oleh: Pdt. Nurtjahja.
Dalam bagian ini, Paulus menggambarkan kasih sebagai pakaian rohani yang mengikat di antara anggota keluarga. Selain itu, damai sejahtera hendaknya memerintah di dalam keluarga. Ketika dua hal ini ada di dalam keluarga, maka keluarga kita akan terasa penuh berkat Tuhan. Lebih jauh lagi, Yesus memerintahkan kita untuk membawa damai dalam keluarga (Mat. 5:9). Artinya, damai tidak terjadi secara otomatis.
Bagaimana mewujudkan damai di dalam keluarga supaya keluarga kita tetap bertahan dan saling mengasihi? Pertama, wujudkan damai lewat perkataan (Ams. 15:1). Perkataan berperan penting dalam komunikasi sehari-hari. Ibarat api, perkataan bisa menghangatkan atau membakar. Jangan biarkan perkataan menjadi sumber konflik (Mzm. 141:3).
Kedua, wujudkan damai lewat mendengar (Yak. 1:19). Konflik biasa terjadi karena setiap anggota keluarga inginnya berbicara. Namun ketika mereka mau untuk saling mendengar, maka konflik bisa diatasi.
Ketiga, wujudkan damai melalui pengampunan (Kol. 3:13). Di tengah segala kelemahan dan kekurangan yang ada, marilah kita saling mengampuni.
Jadikanlah membawa damai dalam keluarga sebagai gaya hidu, dimulai dari perkataan, pendengaran, dan hati kita. Maka, kita akan disebut anak-anak Allah dan kita akan berbahagia (Mat. 5:9). Amin.
REFLEKSI
Damai bukan terjadi karena ketiadaan masalah, tetapi karena keberadaan Tuhan (Alexander Maclaren)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa saja tantangan-tantangan yang dihadapi keluarga Anda dalam mewujudkan damai?
- Bagaimana keluarga Anda bisa menerapkan ketiga langkah untuk mewujudkan damai sesuai khotbah ini? Kaitkan dengan jawaban Anda pada pertanyaan pertama.
REFERENSI
14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. (Kol. 3:14-15)
Berbahagialah orang yang membawa damai,
karena mereka akan disebut anak-anak Allah. (Mat. 5:9)
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman,
tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. (Ams. 15:1)
Awasilah mulutku, ya TUHAN,
berjagalah pada pintu bibirku! (Mzm. 141:3)
Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; (Yak. 1:19)
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kol. 3:13)
