Persembahan yang Mendukakan Hati Tuhan (Mal. 1:6-14)

Ibadah Umum I, 13 Juli 2025. Oleh: Pdm. Tomy Handaka.

Setelah beberapa lama kembali dari Pembuangan dan membangun Bait Allah, bangsa Israel kembali jatuh melakukan ritual yang kosong. Mereka dengan sengaja mempersembahkan binatang yang buta, pincang, dan sakit. Kelakuan mereka mendukakan hati Tuhan. Nabi Maleakhi pun diutus untuk memberi teguran. Ada dua pelajaran utama dalam bagian ini.

Pertama, Allah layak menerima yang terbaik. Allah layak dihormati lebih dari bapak kandung kita, layak ditaati lebih dari tuan di tempat kerja kita dan layak disembah lebih dari raja-raja di dunia ini (ay. 6) Dari Dialah semua yang kita miliki berasal, termasuk juga keselamatan kekal (1Yoh. 4:19). Jadi, sebagai respons, kita layak mempersembahkan diri kita dengan cara yang terbaik kepada-Nya (Rm. 12:1).

Kedua, teguran Tuhan bersifat memulihkan, bukan menghancurkan. Allah dapat menyatakan kasih-Nya melalui berbagai cara, salah satunya melalui teguran (Why. 3:19). Kita dapat melihat bahwa ketika Allah menegur bangsa Israel, Dia tidak menginginkan kehancuran mereka, tetapi justru supaya mereka berbalik dan mendapat damai sejahtera yang penuh.

Ketika wahyu ini diturunkan, orang-orang Israel masih menani-nantikan datangnya Juru Selamat. Namun, kita telah mengenal-Nya di dalam diri Tuhan Yesus, yang telah memberikan segalanya dan yang terbaik bagi kita. Maukah kita merespons dengan memberikan yang terbaik juga bagi-Nya? Amin.

REFLEKSI

Jika Kristus adalah Tuhan dan telah mati bagi saya, maka tidak ada pengurbanan yang terlalu besar yang dapat saya berikan kepada-Nya (C.T. Studd)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Sebutkan persembahan-persembahan yang terlihat baik tetapi sebenarnya cacat yang ada dalam kehidupan Kekristenan masa kini!
  2. Dalam bentuk apa saja teguran-teguran Tuhan yang dapat terjadi pada masa kini?

REFERENSI

6 Seorang anak menghormati bapaknya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapak, di manakah rasa hormat kepada-Ku? Jika Aku ini tuan, di manakah rasa takut kepada-Ku? firman TUHAN Semesta Alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata, ”Bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” 7 Kamu membawa roti yang cemar ke atas mezbah-Ku. Tetapi, kamu berkata, ”Bagaimanakah kami mencemarinya?” Dengan berpikir bahwa meja TUHAN boleh diremehkan! 8 Apabila kamu membawa seekor binatang yang buta untuk dipersembahkan, bukankah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, bukankah itu jahat? Coba bawalah itu kepada penguasa daerahmu, apakah ia berkenan kepadamu atau menyambutmu dengan baik? firman TUHAN Semesta Alam.

9 Sekarang, cobalah lunakkan hati Allah, supaya Ia mengasihani kita! Oleh tanganmulah hal itu terjadi. Mungkinkah Ia akan menyambut seorang dari antaramu dengan baik? firman TUHAN Semesta Alam. 10 Sekiranya saja ada di antara kamu yang menutup pintu, sehingga kamu tidak menyalakan api di mezbah-Ku dengan percuma. Aku tidak berkenan kepadamu, firman TUHAN Semesta Alam, dan Aku juga tidak sudi menerima persembahan dari tanganmu. 11 Sebab dari terbit matahari sampai pada terbenamnya, nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa. Di setiap tempat akan dipersembahkan dupa bagi nama-Ku dan juga kurban sajian yang tahir, sebab besarlah  nama-Ku di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN Semesta Alam. 12 Tetapi, kamu ini menajiskannya, karena kamu menyangka, ”Meja Tuhan memang cemar dan makanan yang ada di situ boleh diremehkan!” 13 Kamu berkata, ”Lihat, ini menyusahkan saja!” dan kamu mencibir Aku, firman TUHAN Semesta Alam. Kamu membawa binatang rampasan, binatang yang timpang dan yang sakit. Itulah yang kamu bawa sebagai persembahan. Akan berkenankah Aku menerimanya dari tanganmu? firman TUHAN. 14 Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, dan telah menazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab, Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN Semesta Alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa. (Mal. 1:6-14 ,TB-2)

“Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati” (Rm. 12:1, TB-2)

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. (1Yoh. 4:19, TB-2)

“Siapa yang Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar. Sebab itu, bersungguh-sungguhlah dan bertobatlah!” (Why. 3:19, TB-2)

About the author

Leave a Reply