Apa Yang Membuat Allah Menjawab Sebuah Doa? (1Sam. 1:9-11)

Ibadah Minggu, 3 Mei 2020

Pdt. Mary Shi (GKKK Malang)

Ada satu pertanyaan yang sering hinggap di benak orang-orang Kristen yaitu “Mengapa Tuhan tidak menjawab (dalam arti: mengabulkan) doa?” Mari kita mempelajarinya dari kehidupan Hana. Di dalam Alkitab diceritakan bahwa karena tidak memiliki keturunan dengannya, Elkana suaminya mengambil perempuan lain, yaitu Penina dan memiliki banyak anak. Itu menyebabkan Penina selalu menyakiti hatinya (ay. 1-7). Ketika Elkana menghiburnya (ay. 8), Hana berdiri (BIMK: bangkit, menunjukkan ada titik balik di sini) dan bernazar kepada Tuhan. Tuhan nantinya mengabulkan doa Hana dan memberikan seorang anak laki-laki, yaitu Samuel.

Apakah doa Hana dikabulkan karena nazarnya itu? Sebenarnya, bukan itu yang terjadi. Tuhan mengabulkan doa Hana pada saat fokus doanya berubah kepada Tuhan. Pertama, Hana meminta anak laki-laki, tetapi bukan lagi untuk mengangkat harga dirinya, melainkan akan memberikannya kepada Tuhan (ay. 11). Kedua, kita juga dapat melihatnya dari perubahan yang ada dalam diri Hana. Setelah berdoa kepada Tuhan, dia mau makan dan mukanya tidak muram lagi (ay. 18). Ada sukacita dalam diri Hana padahal pada saat itu doanya belum terkabul. Ini menunjukkan bahwa dalam doanya, Hana tidak memaksakan untuk bernegosiasi dengan Tuhan (semacam “jika Tuhan memberikan ini, maka saya akan melakukan itu”).

Seperti Hanna, kita juga hendaknya memfokuskan doa kita pada Tuhan dan apa yang menjadi kehendak-Nya. Di tengah situasi yang berat, kita harus merenungkan apa yang Tuhan inginkan untuk kita ubah dalam diri kita atau kita lakukan dalam hidup kita. Dengan cara demikian, kita akan memiliki kedamaian dalam hidup ini. Marilah kita mencari kehendak Tuhan karena Tuhan akan memberikan semuanya (Mat. 6:33). Itulah jawaban doa yang sebenarnya.

REFLEKSI

Pdt. Rick Warren pernah menulis: “Allah lebih peduli dengan karakter kita dibanding kenyamanan kita. Allah lebih peduli untuk membuat kita kudus dibanding membuat kita senang.” Apakah ini juga menjadi pertimbangan kita ketika berdoa? Yakinlah, Allah pasti selalu memberikan yang terbaik bagi kita.

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Bagaimana kita mengetahui bahwa doa kita sesuai dengan kehendak Tuhan?
  2. Apa yang sebaiknya kita lakukan ketika jawaban doa berbeda dengan keinginan kita? Jelaskan dan kaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

AYAT ALKITAB PENDUKUNG

1 Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim. 2 Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak. 3 Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas. 4 Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian. 5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya. 6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya. 7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan. 8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: “Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?” (1Sam. 1:1-8)

9 Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, 10 dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. 11 Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” (1Sam. 1:9-11)

Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi. (1Sam. 1:18)

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat. 6:33)

About the author

Leave a Reply