Ibadah Umum I, 19 Januari 2025. Oleh: Pdt. Vivian Soesilo.

Pada bagian ini, Tuhan Yesus berkata-kata kepada berbagai kalangan yang berduyun-duyun mengikut Dia dan mendengar pengajaran-Nya (Luk. 14:1-6; Mat. 10:2-4). Tuhan Yesus pun mengajar orang-orang itu apa artinya mengikut Dia.

Pertama, mendahulukan Tuhan (ay. 26). ‘Membenci ayah dan ibu’ di sini bukan dalam arti marah atau sikap negatif lainnya. Alkitab melarang kita untuk marah, dan memerintahkan kita untuk menghormati orang tua (baca: Mat. 5:21-22; 15:4; 19:17-19; Ef. 5:25, 28, 33; Kel. 20:12; Ams. 30:17).

Sebenarnya, ungkapan ‘membenci’ ini adalah hiperbola Semitik, yaitu membesar-besarkan kontras (perbandingan tajam) sehingga maknanya dapat dilihat dengan lebih jelas. Jadi artinya, kita harus mengasihi Tuhan lebih daripada semuanya (contohnya, Elisa dalam 1Raj. 19:19-21). Hubungan dengan Tuhan harus diutamakan dibanding dengan relasi antarmanusia yang paling sakral sekalipun.

Kedua, berkomitmen kepada Tuhan (ay. 28-30). Tuhan Yesus mengajar supaya orang-orang berpikir masak-masak dulu dalam mengikut Dia karena ada banyak hal yang dapat menjadikan seseorang meninggalkan Dia. Setialah mengikut Tuhan sampai akhir. Amin.

(Baca juga ringkasan khotbah Ibadah Umum II)

REFLEKSI

Mengikut Tuhan berarti pengurbanan dan pelayanan (John D. Barry)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa saja perbedaan yang akan dialami dalam hidup orang-orang yang meninggalkan Tuhan dan orang-orang yang setia mengikut-Nya?
  2. Selama Anda menjadi pengikut Tuhan, apa saja tantangan yang bisa mengalihkan Anda dari mendahulukan Tuhan dan berkomimen kepada-Nya?

REFERENSI

25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:

26  “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

27  Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

28  Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

29  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,

30  sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

31  Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?

32  Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

33  Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

34  Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?

35  Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Luk. 14:25-35)

About the author

Leave a Reply