Merdeka: Berpikir Sesuai Iman (Ibr. 11:17-19)

Ibadah Umum I, 17 Agustus 2025. Oleh: Pdt. Roy Efendy.

Alkitab mencatat bahwa Tuhan menguji Abraham untuk mengurbankan Ishak. Secara manusiawi, Abraham sangat mungkin merasa berat. Tidak sebatas berat karena kehilangan anak (budaya mengurbankan anak umum dilakukan waktu itu), tetapi terlebih lagi Abraham mungkin bergumul apakah Tuhan itu adalah Tuhan yang palsu. Kehilangan Ishak berarti akan membatalkan janji Tuhan padanya. Namun Abraham tetap taat karena dia memiliki iman (baca: Kej. 22:1-10).

Dari Abraham, kita diajar untuk berpikir sesuai iman, bukan beriman sesuai pikiran. Iman harus menjadi seleksi untuk cara berpikir kita karena pikiran kita sering dibatasi oleh keadaan (Ibr. 11:1). Dengan begitu, kita tidak akan berputus asa dengan keterbatasan-keterbatasan yang terjadi di dalam keadaan kita. Kita akan menyelesaikan setiap pekerjaan yang telah Tuhan percayakan kepada kita.

Marilah kita belajar untuk menjadi orang yang merdeka di dalam iman. Percayalah bahwa Tuhan akan mendengar doa-doa kita. Amin.

REFLEKSI

Iman adalah anugerah Tuhan sekaligus tindakan manusia. Tuhan adalah pencipta iman kita, tetapi kita sendiri yang percaya (Charles Spurgeon)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Di dalam kehidupan masa kini, apa saja pikiran-pikiran yang biasa membatasi iman orang percaya?
  2. Apa sajakah dampaknya bagi pertumbuhan iman dan hidup kita jika pikiran kita terbiasa membatasi iman kita?

REFERENSI

17 Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal,  18 walaupun kepadanya telah dikatakan: ”Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.”  19 Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. (Ibr. 11:17-19)

Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. (Kej. 22:3)

Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: ”Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” (Kej. 22:5)

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibr. 11:1)

About the author

Leave a Reply