Ibadah Umum II, 17 Agustus 2025. Oleh: Pdt. Roy Efendy.
Alkitab menyatakan bahwa sebelum percaya Kristus, kita adalah hamba dosa. Kita dapat diibaratkan sebagai seseorang yang memiliki utang yang begitu besar. Namun setelah Kristus menyelamatkan kita, maka kita menjadi milik Kristus. Jadi sebenarnya, hidup kita ini bukan milik kita sendiri. Inilah konsep paradoks dalam kemerdekaan Kristen.
Ada tiga isu dalam Galatia 5 ini, yaitu legalisme (melakukan hukum Taurat sebagai syarat menerima keselamatan), libertinisme (menyalahgunakan kebebasan yang telah diterima dari Tuhan), serta pilihan antara hidup oleh Roh dan hidup oleh daging, yang bertentangan. Jadi, Injil menyatakan bahwa merdeka bukan berarti bebas dari ikatan, melainkan bebas untuk memilih ikatan yang benar.
Setelah dimerdekaan, kita harus menjadikan kasih sebagai bagian dari hidup kita dalam menggunakan kemerdekaan itu (1Kor. 9:19). Kemudian, kita harus menunjukkan kebebasan melalui pelayanan. Teladanilah Kristus, yang mengambil rupa sebagai seorang hamba yang melayani (Flp. 2:7-8). Itulah yang menjadikan Dia bisa mendekati berbagai kalangan orang.
Ingatlah bahwa kita semua memiliki bagian masing-masing dalam anggota tubuh Kristus. Pakailah talenta yang Tuhan berikan itu untuk saling melayani dalam membangun tubuh Kristus. Amin.
REFLEKSI
Orang memiliki kebebasan untuk menentukan nilai-nilai moral mereka, tetapi mereka juga bertanggung jawab kepada Tuhan untuk pilihan mereka itu (A.W. Tozer)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa tanda-tandanya dalam kehidupan sehari-hari bahwa seseorang masih menjadi hamba dosa atau telah menjadi hamba Kristus?
- Perubahan hidup seperti apakah yang telah Anda alami sendiri setelah menjadi hamba Kristus?
REFERENSI
1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
13 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Gal. 5:1, 13)
Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (1Kor. 9:19)
7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Flp. 2:7-8)
