Ibadah Umum I, 25 Januari 2026. Oleh: Pdm. Tomy Handaka.
Kisah ini merupakan puncak narasi kehidupan iman Abraham. Setelah melewati berbagai ujian iman sejak keluar dari tanah leluhurnya, Allah memintanya untuk mengurbankan Ishak. Pergumulan yang dihadapi Abraham bukan hanya tentang kehilangan satu-satunya anak yang dijanjikan Tuhan, tetapi juga runtuhnya janji Allah jika dia sampai kehilangan Ishak.
Namun, Abraham taat karena dia percaya Allah pasti sanggup menjaga janji-Nya (Ibr. 11:17-19). Benar saja, di saat-saat kritis ketika Ishak hampir dibunuh, tiba-tiba malaikat Tuhan mencegahnya. Kemudian Abraham melihat di sekitarnya ada domba kurban yang telah disediakan Allah sebagai pengganti Ishak. Abraham pun menamakan tempat itu “TUHAN menyediakan yang diperlukan” (YHWH-yir’eh), dan di situlah kelak dibangun Bait Allah pada masa Salomo (2Taw. 3:1).
Jadi, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang setia. Dia mengerti dan mau mencukupi kebutuhan umat-Nya. Bahkan, Dia rela mengurbankan Anak-Nya yang tunggal sebagai kurban tebusan supaya kita diselamatkan (Yoh. 1:29; Rm. 8:32).
Allah bisa saja menguji iman kita untuk melangkah di tengah ketidakpastian. Melalui itu, Allah bisa memurnikan iman kita. Selain itu, iman kita juga akan lebih kuat setelah melihat penyertaan Allah sehingga kita sanggup melewatinya. Jadi, tetaplah percaya kepada-Nya ketika ujian iman datang, karena Dia telah menyediakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya dan Dia setia untuk terus menopang kita. Amin.
REFLEKSI
Iman, seperti otot, akan berkembang jika terus dilatih (A.W. Tozer)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa saja dampaknya bagi kita jika kita cenderung untuk menghindari ujian iman, atau berharap pada hasil yang instan ketika ujian iman terjadi?
- Langkah-langkah apa saja yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan iman kita, baik di tengah keadaan yang serba sulit maupun yang terasa lancar?
REFERENSI
1 Beberapa waktu kemudian Allah menguji kesetiaan Abraham. Allah memanggil, ”Abraham!” Lalu Abraham menjawab, ”Ya, Tuhan.”
2 Kata Allah, ”Pergilah ke tanah Moria dengan Ishak, anakmu yang tunggal, yang sangat kaukasihi. Di situ, di sebuah gunung yang akan Kutunjukkan kepadamu, persembahkanlah anakmu sebagai kurban bakaran kepada-Ku.”
3 Keesokan harinya pagi-pagi, Abraham membelah-belah kayu untuk kurban bakaran dan mengikat kayu itu di atas keledainya. Ia berangkat dengan Ishak dan dua orang hambanya ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 4 Pada hari yang ketiga tampaklah oleh Abraham tempat itu di kejauhan. 5 Lalu ia berkata kepada kedua hambanya itu, ”Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini. Saya dan anak saya akan pergi ke sana untuk menyembah TUHAN, nanti kami kembali kepadamu.”
6 Abraham meletakkan kayu untuk kurban bakaran itu pada pundak Ishak, sedang ia sendiri membawa pisau dan bara api untuk membakar kayu. Ketika mereka berjalan bersama-sama, 7 Ishak berkata, ”Ayah!”
Abraham menjawab, ”Ada apa, anakku?”
Ishak bertanya, ”Kita sudah membawa api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?”
8 Abraham menjawab, ”Allah sendiri akan menyediakan anak domba itu.” Lalu keduanya berjalan terus.
9 Ketika mereka sampai di tempat yang dikatakan Allah kepada Abraham, ia mendirikan sebuah mezbah dan menyusun kayu bakar itu di atasnya. Lalu diikatnya anaknya dan dibaringkannya di mezbah, di atas kayu bakar itu. 10 Setelah itu, diambilnya pisaunya hendak membunuh anaknya. 11 Tetapi malaikat TUHAN berseru kepadanya dari langit, ”Abraham, Abraham!”
Jawab Abraham, ”Ya, Tuhan!”
12 ”Jangan kausakiti anak itu atau kauapa-apakan dia,” kata TUHAN melalui malaikat itu. ”Sekarang Aku tahu bahwa engkau hormat dan taat kepada-Ku, karena engkau tidak menolak untuk menyerahkan anakmu yang tunggal itu kepada-Ku.”
13 Lalu Abraham memandang ke sekitarnya dan melihat seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam semak-semak. Abraham mengambil domba itu lalu mempersembahkannya kepada TUHAN sebagai kurban bakaran pengganti anaknya. 14 Abraham menamakan tempat itu ”TUHAN menyediakan yang diperlukan”. Dan sampai sekarang pun orang mengatakan “Di atas gunung-Nya TUHAN menyediakan yang diperlukan.” (Kej. 22:1-14 BIMK)
17 Karena beriman juga, maka Abraham mempersembahkan Ishak sebagai kurban ketika ia diuji Allah. Kepada Abrahamlah Allah memberikan janji-Nya, namun Abraham rela menyerahkan anaknya yang satu-satunya itu. 18 Allah telah berkata kepada Abraham, ”Melalui Ishak inilah engkau akan mendapat keturunan yang Aku janjikan kepadamu.” 19 Abraham yakin bahwa Allah sanggup menghidupkan kembali Ishak dari kematian — jadi, boleh dikatakan, Abraham sudah menerima kembali Ishak dari kematian. (Ibr. 11:17-19 BIMK)
Raja Daud sudah menentukan bahwa Rumah TUHAN harus dibangun di Yerusalem di Gunung Moria di tempat pengirikan gandum milik Arauna orang Yebus. Pembangunan Rumah TUHAN itu dimulai oleh Raja Salomo (2Taw. 3:1 BIMK)
Keesokan harinya, Yohanes melihat Yesus datang kepadanya. Lalu Yohanes berkata, ”Lihat, itulah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. (Yoh. 1:29 BIMK)
Anak-Nya sendiri tidak disayangkan-Nya, melainkan diserahkan-Nya untuk kepentingan kita semua; masakan Ia tidak akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang lainnya? (Rm. 8:32 BIMK)
