Ibadah Tutup Tahun, 31 Desember 2025. Oleh: Pdt. Daud Soesilo.
Perikop ini merupakan bagian dari Ucapan Bahagia yang dikatakan oleh Yesus. Terdapat kemiripan peristiwa ketika Musa menerima firman Tuhan dalam bentuk dua loh batu di bukit, di sini Yesus sendiri yang memberikan firman-Nya. Jadi, Matius menunjukkan bahwa Yesus lebih tinggi dibanding Musa.
Pada masa itu, daerah Palestina dikuasai oleh Roma. Kaisar Roma merasa bahwa dia adalah pembawa damai dan anak dewa. Oleh sebab itu, Matius menyatakan bahwa umat Tuhanlah yang menjadi pembawa damai dan anak-anak Allah.
Istilah pembawa damai menyatakan seorang pelaku, adanya tindakan yang aktif untuk mendorong terjadinya rekonsiliasi. Artinya, dia menjadikan orang berkawan dan menolong satu sama lain. Orang seperti ini akan disebut sebagai “anak-anak Allah.” Bahkan, kalau kita meneliti konstruksi gramatika bahasa Yunaniya (pasif divinitas), Allah sendiri yang menyebut mereka sebagai anak-anak-Nya (bnd. Mat. 5:9 BIMK).
Jadi, sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Tuhan, maka kita harus menampilkan perilaku yang membawa damai kepada orang-orang di sekitar kita. Bahkan, kepada orang-orang yang telah menyakiti kita. Marilah kita membagikan damai yang telah kita terima dari Kristus. Amin.
REFLEKSI
Semua orang Kristen dipanggil untuk mejadi pembawa damai, baik di dalam gereja maupun di lingkungan mereka (John R.W. Stott)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apakah menjadi pembawa damai berarti harus menghindari pertentangan? Jelaskan!
- Apa saja tantangan yang pernah Anda alami dalam menyebarkan damai di lingkungan sehari-hari? Bagaimana Anda bisa mengatasinya?
REFERENSI
1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 2 Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
9 Berbahagialah orang yang membawa damai,
karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
(Mat. 5:1-2, 9)
Berbahagialah orang yang membawa damai di antara manusia;
Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya! (Mat. 5:9 BIMK)
