Ibadah Umum I, 6 Agustus 2023. Oleh: Pdt. Christian Sulistio.
Kita pasti pernah iri hati dengan kehidupan orang lain. Iri hati adalah perasaan tidak puas dengan apa yang kita miliki dibandingkan dengan orang lain, yang terlihat lebih baik. Sebenarnya, iri hati merupakan perwujudan atas ketidakpuasan dengan cara Tuhan mengatur hidup manusia di dunia ini.
Di dalam ayat ini, iri hati menimbulkan dampak negatif. Kita menjadi tidak suka, jengkel, atau marah. Pikiran akan memengaruhi kondisi tubuh kita dan relasi dengan orang-orang lain. Itulah sebabnya, dalam ayat ini dituliskan bahwa iri hati “membusukkan tulang.”
Ada beberapa kisah dalam Alkitab yang mengajarkan dampak dari iri hati. Misalnya, Kain yang membunuh Habel setelah persembahannya tidak diterima Tuhan. Atau, saudara-saudara Yusuf yang ingin membunuhnya karena merasa dia diistimewakan. Juga, Saul yang ingin membunuh Daud karena orang-orang Israel memuji Daud melebihinya.
Tetapi ayat ini juga menyatakan bahwa “hati yang tenang menyegarkan tubuh.” Inilah hati yang percaya kepada Allah yang rencana-Nya baik dan memberikan berkat-berkat-Nya secara adil. Dengan begitu, kita tidak lagi merasa iri hati ketika melihat kehidupan orang lain yang terlihat lebih baik.
Marilah kita belajar dua hal. Pertama, bersyukur dengan apa yang kita miliki. Kedua, jangan bandingkan diri kita dengan orang lain (Gal. 6:4). Amin.
REFLEKSI
Iri hati adalah masalah bagi orang lain dan siksaan bagi diri sendiri (William Penn)
PERTANYAAN DISKUSI
- Jika kita tidak boleh iri hati, apakah itu berarti kita tidak boleh ingin meraih sesuatu seperti yang didapat orang lain? Jelaskan!
- Apakah ada hal yang menjadikan Anda merasa iri hati pada saat ini? Berdasarkan khotbah ini, bagaimana Anda akan mengatasinya?
REFERENSI
Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. (Ams. 14:30)
Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. (Gal. 6:4)
