Jika Tidak Boleh ‘Pisah,’ Lalu…? (Ams. 19:22a; Mat. 19:3-10; Why. 2:10c)

Ibadah Umum II, 12 April 2026. Oleh: Pdt. Nyoman Widiantara.

Pada masa kini, semakin marak perceraian terjadi. Namun dari pandangan Tuhan Yesus, rancangan Allah adalah “bersatu”, tidak ada ruang perceraian (Mat. 19:4-5). Kemudian, manusia tidak memiliki hak untuk menceraikan yang dipersatukan Allah (Mat. 19:6). Nabi Musa pun pada hakikatnya tidak setuju perceraian (Mat. 19:7-8). Surat cerai di zaman Musa bukan untuk membolehkan, tetapi untuk mengerem perceraian.

Bahkan, perzinaan pun tidak serta merta membolehkan perceraian. Istilah perceraian dalam Matius 19:9 dan Hosea 3:1 itu sebenarnya ketika pasangan masih ada dalam masa pertunangan. Jadi, Tuhan Yesus sangat tegas menolak perceraian (Mat. 19:9-10).

Rasul Paulus pun tidak membolehkan perceraian. Kecuali, ketika seseorang menjadi percaya, dan pasangannya yang dinikahi sebelumnya tidak mau tinggal bersama lagi karena iman pasangannya itu (1Kor. 7:10-11). Jadi, Allah sangat membenci perceraian (Mal. 2:16).

Bagaimana jika kita menghadapi masalah setelah menikah? Percayalah bahwa Tuhan memiliki maksud dengan menyatukan kita dengan pasangan kita. Tuhan menginginkan kesetiaan kita, sesulit apa pun keadaan kita (Ams. 19:22a).

Caranya, kasihilah Tuhan. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita tidak akan melakukan hal-hal yang dibenci oleh-Nya (Mal. 2:16). Kemudian, setialah sampai akhir (Why. 2:10c). Amin.

REFLEKSI

Ujian bagi anak-anak Tuhan bukanlah kesuksesan, melainkan kesetiaan di dalam hidup yang sesungguhnya (Oswald Chambers)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa lebih baik berpisah asalkan lebih bahagia, dibanding tinggal bersama tetapi rumah tangga seperti neraka. Bagaimana tanggapan Anda berdasar penjelasan firman Tuhan bagian ini?

REFERENSI

Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; (Ams. 19:22a)

3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: ”Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” 4 Jawab Yesus: ”Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?  5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.  6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” 7 Kata mereka kepada-Nya: ”Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?”  8 Kata Yesus kepada mereka: ”Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”  10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: ”Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” (Mat. 19:3-10)

Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. (Why. 2:10c)

Berfirmanlah Tuhan kepadaku: ”Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti Tuhan juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis.” (Hos. 3:1)

10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku—tidak, bukan aku, tetapi Tuhan—perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.  11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. (1Kor. 7:10-11)

Sebab Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel—juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman Tuhan semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat! (Mal. 2:16)

About the author

Leave a Reply