Ibadah Umum I, 1 Februari 2026. Oleh: Pdt. Andreas Hauw.
Ketika mendengar pengaduan seseorang yang bertikai dengan saudaranya mengenai harta, Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengajarkan tentang ketamakan. Kitab Amsal menggambarkan ketamakan itu seperti lintah, yang tidak pernah puas dalam mengisap darah, dunia orang mati yang tidak pernah habis-habisnya menampung orang mati, rahim yang mandul yang selalu ingin punya anak, tanah kering kerontang yang terus menyerap air, dan api yang ketika membakar akan terus menjalar (Ams. 30:15-16).
Orang yang datang kepada Yesus itu memikirkan kesenangan dirinya sendiri dan dari situlah timbul ketamakannya (ay. 19). Orang itu merasa kaya dan pandai berinvestasi, tetapi tidak menyadari bahwa dia tidak bisa mengendalikan hidupnya, yang bisa tiba-tiba berakhir (ay. 20).
Jadi, ada empat hal yang membangkrutkan orang ini: dia lupa pada Tuhan, yang memiliki segalanya; dia bodoh karena tidak hidup menurut maunya Tuhan; dia miskin karena hartanya diambil Tuhan; dan dia bersusah payah tetapi hasilnya nol.
Marilah kita mengejar kelimpahan yang sejati, yaitu kaya di hadapan Tuhan (baca: Mzm. 112). Takutlah akan Tuhan sehingga kita akan hidup dengan berhikmat. Jangan sampai kita dikuasai oleh ketamakan karena itu jahat (Kol. 3:5; Ef. 5:3). Sebaliknya, biarlah harta benda kita untuk digunakan dalam kerajaan Allah dan menjadi berkat bagi orang lain. Amin.
REFLEKSI
Tidak ada yang salah bagi kita untuk memiliki kekayaan; yang bisa salah adalah bagaimana relasi kita dengan kekayaan itu (David Martyn Lloyd-Jones)
PERTANYAAN DISKUSI
- Bagaimana orang yang tamak menjauhkan diri dari kasih kita kepada Tuhan dan sesama?
- Apa saja yang bisa kita lakukan untuk melepaskan diri dari ketamakan? Lakukanlah sebagai gaya hidup!
REFERENSI
13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: ”Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” 14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” 15 Kata-Nya lagi kepada mereka: ”Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: ”Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. 17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. 18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. 19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! 20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? 21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk. 12:13-21)
15 Si lintah mempunyai dua anak perempuan:
”Untukku!” dan ”Untukku!”
Ada tiga hal yang tak akan kenyang,
ada empat hal yang tak pernah berkata: ”Cukup!”
16 Dunia orang mati, dan rahim yang mandul,
dan bumi yang tidak pernah puas dengan air,
dan api yang tidak pernah berkata: ”Cukup!” (Ams. 30:15-16)
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, (Kol. 3:5)
Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. (Ef. 5:3)
