Ibadah Umum II, 23 Agustus 2026. Oleh: Pdm. Heni Susiani.
Ada sebagian orang Kristen yang hanya mau menerima berkat Tuhan tetapi tidak mau menyalurkannya. Hal ini bertolak belakang dengan maksud Tuhan memberi berkat bagi keturunan Abraham, yaitu untuk menjadi berkat bagi sesama (Kej. 12:2). Ada empat penghambat utama bagi kita untuk menjadi berkat yang bisa kita pelajari dari kisah Yunus.
Pertama, ketidaktaatan (1:3). Setelah menerima panggilan Tuhan untuk pergi ke Niniwe, Yunus malah berlari menjauh. Yunus menghabiskan waktu dan uangnya, lalu orang-orang di kapal pun menghadapi bahaya. Demikian pula, kita akan “membayar harga” atas ketidaktaatan kita. Kedua, mencari keamanan sendiri (1:5-6). Ketika datang angin ribut dan semua awak kapal panik, Yunus malah menyendiri dan tertidur nyenyak. Demikian pula, kita tidak bisa menjadi berkat jika bersikap egois atau hitung-hitungan.
Ketiga, menjadi hakim atas anugerah Tuhan (4:1-3). Yunus membatasi kasih Allah bagi golongannya sendiri. Demikian pula kita akan gagal menjadi berkat ketika kita mulai menilai orang lain layak atau tidak layak menerima berkat Tuhan. Keempat, hati yang tidak selaras dengan hati Tuhan (4:10-11). Melalui sebuah pohon jarak, Tuhan membukakan hati Yunus yang memprioritaskan kenyamanan diri yang fana dibanding jiwa-jiwa yang memerlukan keselamatan.
Marilah kita meneladani Kristus, yang rela mengosongkan diri demi keselamatan orang-orang berdosa (Mat. 12:41). Amin.
REFLEKSI
Hati Allah, bukan hatiku, yang menjadi ukuran pemberian-Nya; bukan tergantung pada kapasitasku untuk menerimanya, tetapi pada kapasitas-Nya untuk memberi (Charles Spurgeon)
PERTANYAAN DISKUSI
- Dari keempat hal yang dibahas dalam khotbah ini, manakah yang paling sering menjatuhkan Anda? Bagaimana Anda akan mengatasinya jika terjadi lagi di kemudian hari?
- Adakah perintah Tuhan yang sedang Anda hidari saat ini? Mintalah hikmat dan kekuatan Roh Kudus supaya Tuhan bisa memakai anda untuk menjadi penyalur berkat-Nya!
REFERENSI
1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: 2 ”Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” 3 Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.
4 Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. 5 Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. 6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: ”Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.” (Yun. 1:1-6)
1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. 2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: ”Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. 3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” 4 Tetapi firman TUHAN: ”Layakkah engkau marah?”
5 Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.
6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. 8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: ”Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” 9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: ”Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: ”Selayaknyalah aku marah sampai mati.”
10 Lalu Allah berfirman: ”Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. (Yun. 4:1-10)
Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! (Mat. 12:41)
