Ibadah Umum I, 10 Maret 2024. Oleh: Pdt. Andreas Hauw.
Ada berbagai motivasi seseorang menyembah Tuhan. Ada yang seperti pedagang (yang mencari keuntungan jasmani maupun rohani), budak (yang penuh ketakutan pada Tuhan), atau wisatawan (yang hanya ingin menikmati kesenangan). Tetapi seharusnya, kita menyembah Tuhan karena mengenal Dia.
Kisah transfigurasi (berubah rupa) ini terjadi ketika Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem, tepatnya seminggu sebelum Tuhan Yesus disalib. Ketika itu, Petrus mengalami sukacita ketika Tuhan Yesus berubah rupa dan ada Musa dan Elia juga di situ. Tetapi, Petrus tidak tahu makna peristiwa tersebut, yaitu supaya murid-murid-Nya melihat Tuhan Yesus yang sesungguhnya. Yaitu, Yesus yang sudah ada sebelum dunia ada. Kemudian, itu juga memberi ruang supaya kita yang percaya pada-Nya berubah juga.
Ada tiga tanda Tuhan Yesus dimuliakan. Pertama, wajah-Nya memancarkan sinar (ay. 2). Kemudian ada Musa dan Elia, dua tokoh besar dalam Perjanjian Lama, untuk meneguhkan identitas Yesus. Terakhir, kesaksian Petrus di masa tuanya (2Ptr. 1:17-18). Peristiwa transfigurasi ini menunjukkan kemuliaan salib, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya (ay. 9; Lukas mencatat bahwa yang dibicarakan mereka di situ adalah tujuan kepergian-Nya, Luk. 9:31).
Jadi, ibadah harus berfokus pada salib yang mulia, karena di sanalah Tuhan menanggung segala dosa kita. Kita juga harus mendengarkan dan patuh kepada-Nya (ay. 5). Jadikanlah peristiwa transfigurasi sebagai ruang perubahan kita. Amin.
REFLEKSI
Allah memilih kita, bukan karena kita percaya, tetapi supaya kita bisa percaya (Agustinus)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apakah Anda pernah memiliki motivasi yang salah dalam beribadah? Apa akibatnya?
- Apa komitmen Anda setelah memahami makna transfigurasi Tuhan Yesus ini?
REFERENSI
1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. 2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. 3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. 4 Kata Petrus kepada Yesus: ”Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” 5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” 6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. 7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: ”Berdirilah, jangan takut!” 8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. 9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: ”Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.” (Mat. 17:1-9)
17 Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” 18 Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. (2Ptr. 1:17-18)
Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. (Luk. 9:31)
