Ibadah Minggu, 3 Oktober 2021 (Sore)
Oleh Pdt. Andreas Hauw (STT SAAT)
Selain mengajarkan para pembaca suratnya untuk lambat dalam berkata-kata (baca ringkasan khotbah Ibadah Pagi), Yakobus juga mengajarkan untuk lambat marah. Maksudnya, jangan cepat menanggapi apa yang didengar. Hikmat para rabi mengatakan bahwa Tuhan memberikan manusia dua telinga supaya banyak mendengar tetapi hanya satu mulut supaya manusia lambat berbicara.
Pertanyaannya, bolehkah kita marah? Perhatikan bahwa dalam bagian ini yang dimaksud adalah lambat untuk amarah manusia. Marah itu boleh, tetapi jangan didorong oleh nafsu manusia. Tuhan Yesus pun pernah marah kepada para pedagang yang berjualan di kompleks Bait Suci (Mat. 21:12-13). Tuhan Yesus marah karena mereka menjadikan Bait Suci sebagai “sarang penyamun.” Artinya, lembaga rohani itu sudah berubah menjadi tempat untuk mencari keuntungan. Namun pada waktu itu, Dia tidak marah karena nafsu manusia-Nya.
Ketika marah, kita mungkin akan merasa lega. Tetapi ingatlah bahwa orang lain belum tentu mudah meredakan rasa sakit hatinya dari kemarahan kita. Orang yang marah karena nafsu manusianya tidak berkenan di hadapan Tuhan (Yak. 1:20 BIMK). Bahkan, orang yang sedang marah tidak layak untuk memberikan persembahan pada Tuhan (Mat. 5:22-23). Marah tidak hanya akan merugikan diri kita sendiri, tetapi juga orang lain (Mzm. 34:13-14; Ams. 15:1).
Yakobus mengajarkan pembaca suratnya untuk mengontrol kemarahan. Lebih jauh lagi, Paulus mengajarkan bahwa kemarahan yang tidak terkontrol akan menjadi pijakan bagi Iblis untuk menghancurkan orang-orang yang terlibat dalam kemarahan itu (Ef. 4:26-27). Mari kita buang segala yang kotor dan yang jahat dalam hati kita. Sebaliknya, terimalah firman Tuhan dengan lemah lembut (ay.21). Inilah cara untuk membuang racun kemarahan dari diri kita. Belajarlah pada Tuhan Yesus, yang lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:29). Ketika amarah sudah memuncak, tundalah kemarahan itu. Amin.
REFLEKSI
Kepala panas dan hati dingin tidak pernah menyelesaikan apapun (Billy Graham)
PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN
- Pada saaat-saat yang seperti apa ketika kita boleh (atau harus) marah?
- Apa yang membuat Anda bisa kehilangan kendali sehingga mudah terpancing untuk marah? Bagaimana cara untuk mengatasinya?
AYAT ALKITAB TERKAIT
19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; 20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. 21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. (Yak. 1:19-21)
Orang yang marah tidak dapat melakukan yang baik, yang menyenangkan hati Allah. (Yak. 1:20 BIMK)
12 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati 13 dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” (Mat. 21:12-13)
22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. (Mat. 5:22-24)
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. (Ams. 15:1)
13 Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? 14 Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; (Mzm. 34:13-14)
26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. (Ef. 4:26-27)
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Mat. 11:29)
