Ibadah Umum I, 28 September 2025. Oleh: Pdp. Kornelius Makapile.
Hikmat adalah kemampuan untuk memahami dan menerapkan kebenaran Allah dalam hidup sehari-hari yang berasal dari perasaan takut kepada Tuhan. Hikmat yang sejati asalnya dari Tuhan. Orang yang mengejar sesuatu dalam hidup tetapi dilakukan di luar Tuhan akan sia-sia dan tidak akan pernah menghasilkan kebahagiaan (Pkh. 2:10-11).
Jika demikian, bagaimana kita dapat menemukan kebahagiaan yang sejati? Pertama, percayalah pada Tuhan (ay. 20). Tuhan akan memberkati orang-orang yang takut kepada-Nya (Mzm. 34:10; Ams. 3:3). Ketika kebenaran Tuhan ada dalam hati kita, kita akan menjadi bijak (ay. 21-22). Kedua, jadilah bijak (ay. 23). Orang bijak mulutnya berakal budi (Mat. 15:18-19) dan perkataannya menyenangkan (Ams. 16:24). Ketiga, jangan berbelok dari jalan Tuhan (ay. 25). Tuhan menentukan jalan hidup kita dan jalan-Nya adalah yang terbaik (Ams. 20:24).
Percayakan hidup kita kepada Tuhan, jadilah bijak, dan berjalanlah di jalan Tuhan, maka kita akan berbahagia. Amin.
REFLEKSI
Hikmat yang sejati haruslah berhikmat menurut hukum Tuhan (John Calvin)
PERTANYAAN DISKUSI
- Bagaimana kita dapat membedakan hikmat dari Tuhan dan hikmat dari manusia? Sebutkan contohnya dalam kehidupan sehari-hari!
- Apakah yang dapat Anda lakukan secara praktis untuk bertumbuh dalam hikmat Tuhan?
REFERENSI
20 Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan,
dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.
21 Orang yang bijak hati disebut berpengertian,
dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan.
22 Akal budi adalah sumber kehidupan bagi yang mempunyainya,
tetapi siksaan bagi orang bodoh ialah kebodohannya.
23 Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi,
dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan.
24 Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu,
manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.
25 Ada jalan yang disangka lurus,
tetapi ujungnya menuju maut. (Ams. 16:20-25)
10 Segala keinginanku, kupuaskan. Tak pernah aku menahan diri untuk menikmati kesenangan apa pun. Aku bangga atas segala hasil jerih payahku, dan itulah upahku. 11 Tetapi kemudian kuteliti segala karyaku, dan juga segala jerih payahku untuk menyelesaikan karya-karya itu, maka sadarlah aku bahwa semuanya itu tak ada artinya. Usahaku itu sia-sia seperti mengejar angin saja. (Pkh. 2:10-11)
Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus,
sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! (Mzm. 34:10)
Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik,
tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya. (Ams. 3:33)
18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. 19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. (Mat. 15:18-19)
Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. (Ams. 16:24)
Langkah orang ditentukan oleh TUHAN,
tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya? (Ams. 20:24)
