Ibadah Umum II, 1 Juni 2025. Oleh: Pdt. Dina Latumahina.
Salah satu tokoh dalam kisah ini adalah seorang gadis Israel, tawanan perang yang kemudian menjadi pelayan di rumah Naaman, panglima raja Aram. Di tengah segala keterbatasan hidupnya, dia berani memberikan informasi kepada Naaman, yang saat itu sedang sakit. Walaupun “kecil”, dia bisa memengaruhi orang “besar” untuk mendapat pengharapan.
Dengan keberanian dan imannya, gadis itu dipakai Tuhan untuk memancarkan terang-Nya pada orang yang memerlukan. Gadis itu memperoleh keberanian dan iman dari firman Tuhan, yang tentu dia peroleh dari orang tuanya selama berada di Israel. Dari sini kita belajar bahwa pendidikan iman sangat penting untuk dilakukan di dalam keluarga. Tentunya, pendidikan iman itu harus diterapkan juga dalam kehidupan sehari-hari.
Ada beberapa pelajaran rohani dari kisah ini. Dari Naaman, kita belajar pentingnya kerendahan hati untuk berkolaborasi dengan orang lain dalam menemukan solusi. Kemudian dari suara gadi kecil itu, kita belajar bahta ide-ide berharga bisa berasal dari sumber yang tidak terduga. Kemudian, untuk menjadi pelita yang bersinar, iman harus disertai tindakan.
Dalam kisah ini, terlihat bahwa kontribusi yang terlihat kecil dapat membuat perubahan besar. Kita harus menghargai proses transformasi hidup seseorang, seperti gadis kecil itu yang di kemudian hari bisa dipakai Tuhan (bnd. Yes. 55:10-11). Teruslah bersinar di tempat-tempat yang gelap. Amin.
REFLEKSI
Tuhan tidak akan memancarkan terang-Nya melalui kita jika kita tidak membuat firman-Nya sebagai terang kita (John Calvin)
PERTANYAAN DISKUSI
- Bagaimana Anda membedakan terang yang terpancar dari Tuhan dengan terang yang dipancarkan dari kekuatan manusiawi?
- Apa yang bisa Anda lakukan dalam memancarkan terang Tuhan di dalam lingkungan kehidupan Anda sehari-hari pada saat ini?
REFERENSI
1 Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia Tuhan telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta. 2 Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. 3 Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: ”Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” 4 Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: ”Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu.” 5 Maka jawab raja Aram: ”Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel.”
Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. 6 Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: ”Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya.” 7 Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: ”Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku.”
8 Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: ”Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel.” 9 Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. 10 Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: ”Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” 11 Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: ”Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama Tuhan, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! 12 Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?” Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati.
13 Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: ”Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir.” 14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.
15 Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: ”Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!” 16 Tetapi Elisa menjawab: ”Demi Tuhan yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa.” Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolak. 17 Akhirnya berkatalah Naaman: ”Jikalau demikian, biarlah diberikan kepada hambamu ini tanah sebanyak muatan sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan kepada allah lain kecuali kepada Tuhan. (2Raj. 5:1-17)
10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit
dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi,
membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,
memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku:
ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia,
tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki,
dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. (Yes. 55:10-11)
