Sungguh Bijaksana untuk Hidup Takut akan Tuhan (Mi. 6:1-9)

Ibadah Umum I, 14 September 2025. Oleh: Pdt. David Alinurdin.

Secara tampak luar, kita mungkin bisa terlihat baik-baik saja. Namun di dalam diri kita mungkin ada hal yang tidak beres di hadapan Tuhan. Inilah yang digambarkan dalam bagian ini ketika Tuhan menunjukkan kebobrokan umat Allah dan para pemimpinnya, yang di luar tampak baik (Mi. 2:2; 3:2-3, 9-11; 6:10-12;  7:3). Tuhan pun digambarkan membuka ruang persidangan bagi mereka (ay. 1-2).

Hal itu mereka lakukan karena berpikir kalau ada Bait Suci dan sudah memberikan persembahan, maka mereka sudah aman. Anugerah Tuhan dianggap murahan dan kehidupan ibadah diperlakukan secara transaksional (Mi. 2:6; bnd. 3:11b).

Padahal, kehendak Tuhan sederhana, yaitu berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya (ay. 8). Takut akan Tuhan adalah hal bijaksana yang dapat kita lakukan sebagai orang percaya (ay. 9). Melihat keadaan seperti itu, Mikha pun berdoa dan menantikan Tuhan (ay. 7).

Ada dua hal yang bisa kita lakukan. Pertama, hiduplah dengan rendah hati di hadapan Tuhan. Periksalah apakah kita memperlakukan Tuhan sebagai Raja atau hanya sebagai alat untuk memenuhi keinginan kita? Apakah ibadah dan persembahan yang kita lakukan lahir dari perasaan takut akan Tuhan yang benar? Kedua, hidup dengan kepuasan sejati di dalam relasi dengan Tuhan yang mengasihi dengan setia. Ingatlah segala kasih setia-Nya dalam hidup kita.

Marilah kita kembali datang kepada Tuhan dan memohon ampun pada-Nya. Hiduplah serupa dengan-Nya (Ul. 10:17-18). Amin.

REFLEKSI

Anugerah murahan adalah anugerah tanpa pemuridan, anugerah tanpa salib, anugerah tanpa Yesus Kristus (Dietrich Bonhoeffer)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa saja tanda-tanda orang yang tidak takut akan Tuhan?
  2. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengembangkan perasaan takut akan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?

REFERENSI

1      Baiklah dengar firman yang diucapkan TUHAN:

Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung,

dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu!

2      Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan TUHAN,

dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi!

Sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya,

dan Ia beperkara dengan Israel.

 

3      ”Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu?

Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku!

4      Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir

dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan

dan telah mengutus Musa dan Harun

dan Miryam sebagai penganjurmu.

5      Umat-Ku, baiklah ingat apa yang dirancangkan

oleh Balak, raja Moab,

dan apa yang dijawab kepadanya

oleh Bileam bin Beor

dan apa yang telah terjadi dari Sitim sampai ke Gilgal,

supaya engkau mengakui perbuatan-perbuatan keadilan dari TUHAN.”

 

6      ”Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN

dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi?

Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran,

dengan anak lembu berumur setahun?

7      Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan,

kepada puluhan ribu curahan minyak?

Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku

dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?”

 

8      ”Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik.

Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu:

selain berlaku adil, mencintai kesetiaan,

dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

 

9      Dengarlah, TUHAN berseru kepada kota:

—adalah bijaksana untuk takut kepada nama-Nya—:

”Dengarlah, hai suku bangsa dan orang kota! (Mi. 6:1-9)

17 Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap;  18 yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian. (Ul. 10:17-18)

About the author

Leave a Reply