Ibadah Umum II, 10 Juli 2022.

Oleh: Pdp. Tomy Handaka Patria.

Kejatuhan dalam dosa membuat manusia terjerumus untuk menurunkan standar kasih Allah. Misalnya, karena beralasan bahwa Allah adalah kasih, banyak orang yang menuntut bahwa pernikahan sejenis juga berhak untuk diberkati di gereja. Kekeliruan pemahaman tentang Allah juga terjadi pada masa Yohanes. Ada orang-orang yang berpikir bahwa mereka telah mendapat pencerahan, sehingga tidak peduli lagi dengan nilai-nilai moral. Tidak hanya itu, mereka juga berusaha memisahkan diri dari jemaat dan membuat perpecahan.

Yohanes membantah keyakinan mereka, yang merasa diri benar padahal masih ada dalam kegelapan. Yohanes berkata, “kasih berasal dari Allah” dan “setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah” (ay. 7). Dengan kalimat ini, Yohanes menegaskan bahwa orang-orang yang telah dilahirbarukan pasti akan menunjukkan perubahan hidup. Salah satunya, mereka akan memiliki kasih. Mengapa demikian? Karena “Allah adalah kasih” (ay. 8). Artinya, kasih adalah esensi dari Allah. Semua yang dipikirkan dan dilakukan Allah semata-mata lahir dari kasih-Nya (termasuk juga ketika Allah memberikan hukuman!).

Pemahaman tersebut menuntun kita pada beberapa konsekuensi. Pertama, kasih Allah harus menjadi dasar ketaatan kita. Ingat, Allah telah lebih dulu menyatakan kasih-Nya kepada kita sebelum ada satu pun kebaikan yang kita kerjakan bagi-Nya (Rm. 5:8). Ketaatan kita bukanlah penyebab Allah bisa mengasihi kita. Kedua, Kasih Allah harus menjadi sumber kasih kita kepada sesama. Pada masa kini, ketika dunia semakin jahat (Mat. 24:12), semakin banyak alasan bagi kita untuk tidak berbagi kasih. Tetapi ketika kita memiliki kasih Allah, maka kita pasti akan selalu menemukan alasan untuk berbagi kasih. Ketiga, kasih Allah harus menjadi teladan ketika kita mengasihi sesama. Teladan yang seperti apa? Yohanes mengajarkan bahwa kasih harus dinyatakan dengan perbuatan dan juga dalam kebenaran (1Yoh. 3:18).

Marilah kita merenungkan, sudahkah kasih Allah terwujud di dalam kehidupan kita sehari-hari? Itulah salah satu tanda apakah kita sudah mengenal Allah dan dilahirbarukan atau belum. Amin.

REFLEKSI

Meskipun perasaan kita bisa datang dan pergi silih berganti, tidak demikian dengan kasih Allah pada kita (C.S. Lewis)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Jelaskan perbedaan kasih Allah dengan kasih yang dipahami dunia ini!
  2. Apa saja hal-hal yang membuat Anda sulit mengasihi pada saat ini? Bagaimana Anda akan  mengatasinya?

REFERENSI AYAT ALKITAB

7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. (1Yoh. 4:7-8)

24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. 25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! (Mat. 25:24-25)

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1Yoh. 4:20)

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Rm. 5:8)

Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin (Mat. 24:12)

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. (1Yoh. 3:18)

About the author

Leave a Reply