Ibadah Umum II, 28 Juli 2024. Oleh: Pdt. Kornelius Setiawan.
Kasih adalah hal yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan. Apakah kita mengasihi saudara-saudara kita dengan tulus dan sepenuh hati? Sebagai orang percaya, Tuhan meminta kita untuk saling mengasihi dan hidup memancarkan kasih-Nya.
Mengapa Tuhan memanggil kita untuk saling mengasihi?
Pertama, kasih adalah karakter/sifat dasar hidup kita sebagai orang Kristen. Kasih berasal dari Allah dan Allah adalah kasih (ay. 7-8). Sehingga, kita yang lahir dari Allah juga sudah selayaknya mengasihi, sesuai dengan gambar dan teladan-Nya. Melalui gereja, karakter-karakter kristiani kita ditumbuhkan dan salah satunya adalah kasih.
Kedua, kasih Allah nyata dalam pengurbanan-Nya (ay. 9-16). Kita telah dikasihi Allah melalui kurban pendamaian Kristus bahkan ketika kita masih berdosa (Rm. 5:8). Demikian pula, kasih harus kita nyatakan kepada sesama dalam tindakan dan kepedulian, bukan hanya kata-kata. Melalui kasih yang kita tunjukkan, maka orang lain akan melihat kasih Allah pada kita.
Ketiga, kasih Allah telah menyelamatkan kita. Tuhan Yesus naik ke Bukit Golgota untuk menyelamatkan orang yang rusak seperti kita, itulah kasih. Kita yang mengenal dan percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, diberi keberanian untuk menghadapi penghakiman karena Dia yang akan menjadi pembela kita (ay. 15-18). Di dalam mengasihi sesama, jangan ada kebencian (ay. 20-21). Amin.
REFLEKSI
Janganlah kita rindu untuk mengasihi seseorang sebelum kita pertama-tama dan terutama mengembangkan kasih kepada Tuhan (Charles Spurgeon)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apakah ada atau tidaknya perselisihan bisa mencerminkan ada atau tidaknya kasih di dalam gereja? Jelaskan!
- Bagaimana caranya Anda mengasihi orang lain dengan kualitas yang lebih dalam dibanding kasih yang diberikan orang di luar Tuhan?
REFERENSI
7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. 14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. 15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. 16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.
Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. 18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. 19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. 20 Jikalau seorang berkata: ”Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. (1Yoh. 4:7-21)
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Rm. 5:8)
