Ibadah Umum I, 22 Juni 2025. Oleh: Pdt. Daud Soesilo.
Dalam kisah ini, Yehuda sedang menghadapi teror. Asyur, telah mengalahkan semua wilayah di sepanjang jalur menuju Yehuda dan saat itu sudah berada tepat di dekat Yerusalem. Sanherib, Raja Asyur, meneror dengan menabur benih keraguan dan mengingatkan bahwa semua bangsa lain telah dikalahkan (baca pasal 36). Menghadapi situasi tersebut, Hizkia, Raja Israel, masuk ke rumah Tuhan dan berdoa (ay. 1).
Ada banyak suara di dunia yang saat ini berusaha menakutkan kita. Teror ini bisa berupa ancaman perang, perundungan (bullying), kekerasan dalam rumah tangga, studi atau karir tiba-tiba terhenti, dan sebagainya. Apakah kita akan takluk pada teror atau bertahan di dalam iman kepada Tuhan?
Ada dua hal dalam bagian ini yang perlu kita perhatikan. Pertama, suara yang paling keras menarik perhatian kita. Jika suara teror yang kita fokuskan, maka kita bisa kehilangan kepercayaan pada Tuhan. Kedua, kita dibentuk oleh suara-suara ekras ini. Pada masa kini, bisa berupa berita-berita dari media sosial. Ketiga, di tengah ancaman dan teror, seorang pemimpin yang pandangannya terfokus pada Tuhan akan membuat perbedaan. Suara dan kasih dari Tuhan akan mengusir rasa takut (1Yoh. 4:18).
Marilah kita datang kepada Tuhan untuk mengatasi rasa takut akibat teror. Suara-suara yang meneror kita mungkin akan tetap ada, tetapi di dalam Kristus, kita akan terlepas dari teror. Amin.
REFLEKSI
Hidup tanpa Tuhan akan membuat dunia ini berbahaya dan menakutkan (Allen P. Ross)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apakah yang akan terjadi jika kita menjauh dari Tuhan ketika sedang menghadapi teror?
- Apa saja yang saat ini bisa membuat Anda merasa takut? Berdoalah untuk meminta kekuatan dan damai sejahtera dari Tuhan!
REFERENSI
1 Segera sesudah raja Hizkia mendengar itu, dikoyakkannyalah pakaiannya dan diselubunginyalah badannya dengan kain kabung, lalu masuklah ia ke rumah Tuhan. 2 Disuruhnyalah juga Elyakim, kepala istana, Sebna, panitera negara, dan yang tua-tua di antara para imam, dengan berselubungkan kain kabung, kepada nabi Yesaya bin Amos. 3 Berkatalah mereka kepadanya: ”Beginilah kata Hizkia: Hari ini hari kesesakan, hari hukuman dan penistaan; sebab sudah datang waktunya untuk melahirkan anak, tetapi tidak ada kekuatan untuk melahirkannya. 4 Mungkin Tuhan, Allahmu, sudah mendengar perkataan juru minuman agung yang telah diutus oleh raja Asyur, tuannya, untuk mencela Allah yang hidup, sehingga Tuhan, Allahmu, mau memberi hukuman karena perkataan-perkataan yang telah didengar-Nya. Maka baiklah engkau menaikkan doa untuk sisa yang masih tinggal ini!” 5 Ketika pegawai-pegawai raja Hizkia sampai kepada Yesaya, 6 berkatalah Yesaya kepada mereka: ”Beginilah kamu katakan kepada tuanmu: Beginilah firman Tuhan: Janganlah engkau takut terhadap perkataan yang kaudengar yang telah diucapkan oleh budak-budak raja Asyur untuk menghujat Aku. 7 Sesungguhnya, Aku akan menyuruh suatu roh masuk di dalamnya, sehingga ia mendengar suatu kabar dan pulang ke negerinya; Aku akan membuat dia mati rebah oleh pedang di negerinya sendiri.”
8 Ketika juru minuman agung pulang, didapatinyalah raja Asyur berperang melawan Libna; sebab sudah didengarnya bahwa raja telah berangkat dari Lakhis. 9 Dalam pada itu raja mendengar tentang Tirhaka, raja Etiopia, berita yang demikian: ”Ia telah keluar berperang melawan engkau,” dan ketika mendengar itu, disuruhnyalah utusan-utusan kepada Hizkia dengan pesan: 10 ”Beginilah harus kamu katakan kepada Hizkia, raja Yehuda: Janganlah Allahmu yang kaupercayai itu memperdayakan engkau dengan menjanjikan: Yerusalem tidak akan diserahkan ke tangan raja Asyur. 11 Sesungguhnya, engkau ini telah mendengar tentang yang dilakukan raja-raja Asyur kepada segala negeri, yakni bahwa mereka telah menumpasnya; masakan engkau ini akan dilepaskan? 12 Sudahkah para allah dari bangsa-bangsa yang telah dimusnahkan oleh nenek moyangku, dapat melepaskan mereka, yakni Gozan, Haran, Rezef dan bani Eden yang di Telasar? 13 Di manakah raja negeri Hamat dan Arpad raja kota Sefarwaim, raja negeri Hena dan Iwa?” (Yes. 37:1-13)
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1Yoh. 4:18)
