Ibadah Umum II, 19 Juni 2022.
Oleh: Pdt. Immanuel Alim Hoseno
Bayang-bayang maut/lembah yang kelam merupakan gambaran dunia ini yang dipenuhi oleh bahaya, teror, dan ketakutan. Tidak ada seorang pun yang menginginkan untuk tinggal dalam kondisi seperti ini. Padahal, semua itu bisa terjadi sewaktu-waktu.
Namun demikian, kita memiliki Tuhan Yesus sebagai Gembala yang Baik (ay. 1). Dia tahu apa yang akan terjadi dan juga akan membimbing kita untuk keluar dari bayang-bayang maut (ay. 4). Semua kebutuhan kita juga akan tercukupi (ay. 2). Dia juga akan menyegarkan jiwa kita dan menuntun kita di jalan yang benar (ay. 3).
Bagaimana supaya kita tidak takut pada bayang-bayang maut? Pertama, percaya bahwa kita tidak berjalan sendiri karena Tuhan menyertai kita. Sekelam apapun itu, ada sesuatu yang baik di dalam setiap pergumulan kita (Rm. 8:28). Kedua, bayang-bayang maut itu tidak permanen (akan terus ada). Jangan ragukan pimpinan Tuhan sekalipun Dia sedang menuntun kita melewati bayang-bayang maut. Ketiga, kita memiliki relasi yang intim dengan Tuhan. Sudahkah kita memiliki kerinduan dan berkomitmen untuk berelasi dengan Tuhan? Amin.
REFLEKSI
Domba-domba Kristus yang setia akan mengenal suara-Nya karena mereka terbiasa berelasi dengan-Nya (Kris Lundgaard)
PERTANYAAN DISKUSI
- Jika Kristus adalah Gembala yang Baik, mengapa banyak orang Kristen yang menderita? Bagaimana Anda merespons fakta ini?
- Apa saja yang akan dialami oleh orang-orang Kristen yang tidak berjalan menurut suara Sang Gembala yang Baik?
REFERENSI AYAT ALKITAB
