Dari Kesia-siaan ke Hidup Berkelimpahan (Pkh. 1:1-11)

Ibadah Umum II, 20 Juli 2025. Oleh: Pdt. Christian Sulistio.

Kitab Pengkhotbah kemungkinan besar ditulis oleh Salomo pada masa tuanya, setelah dia melewati banyak hal dalam hidupnya. Di titik itulah, dia mendapat bahwa segala sesuatu sia-sia. Bukan berarti ‘tidak ada gunanya,’ tetapi ‘segala sesuatu sifatnya fana dan sementara, tidak memiliki substansi permanen, serta tidak bisa kita prediksi atau kendalikan’ (Ibr. habel habelim).

Perikop ini mengajarkan kepada kita bahwa waktu akan menghapus segala ingatan tentang kita dan apa yang sangat kita pedulikan seperti kekayaan, karier, status sosial, serta kenikmatan (ay. 4, 11). Selain itu, segala sesuatu akhirnya akan membosankan karena bersifat monoton dan sementara (ay. 8). Lalu bagaimana kita menghadapinya?

Syukurlah, Alkitab tidak berakhir sampai di situ. Di dalam Perjanjian Baru, dinyatakan bahwa Yesus Kristus masuk ke dalam dunia yang seperti itu unutk memberikan hidup yang berkelimpahan (Yoh. 10:10b). Bukan hidup berkelimpahan secara jasmani, melainkan hidup kekal. Ini adalah hidup yang secara kuantitas sifatnya selama-lamanya dan secara kualitas baik, sesuai kehendak Allah. Hidup yang dapat menghantarkan kita ke surga (Yoh. 11:25).

Karena kita memiliki relasi dengan Kristus, maka hidup kita menjadi bermakna dalam kekekalan (1Kor. 15:58). Semua yang kita terima selama hidup di dunia ini kita akui sebagai pemberian Allah dan dengan penuh ucapan syukur. Selain itu, kita akan berhenti mengalami kekhawatiran. Amin.

REFLEKSI

Semuanya adalah kesia-siaan, kecuali mengasihi dan melayani Tuhan (Thomas à Kempis)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Ada sebagian orang di dunia ini yang menjalani hidup mengalir saja karena merasa apapun yang dilakukan, ada takdir yang tidak bisa diubah. Bagaimana pandangan Anda terhadap pemikiran seperti ini?
  2. Bolehkah kita menyukai hal-hal yang sementara di dunia ini? Jelaskan jawaban Anda!

REFERENSI

1 Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem.

2 Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. 3 Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? 4 Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. 5 Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. 6 Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. 7 Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. 8 Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. 9 Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. 10 Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: ”Lihatlah, ini baru!”? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada. 11 Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datang pun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya. (Pkh. 1:1-11)

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yoh. 10:10)

“Akulah yang memberi hidup dan membangkitkan orang mati,” kata Yesus kepada Marta. ”Orang yang percaya kepada-Ku akan hidup, walaupun ia sudah mati.” (Yoh. 11:25)

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (1Kor. 15:58)

About the author

Leave a Reply