Ibadah Umum I, 6 September 2026. Oleh: Pdt. Adam Eko Yulianto.
Musibah bisa terjadi kapan saja di dalam hidup orang percaya. Ketika badai kehidupan itu datang, mungkin kita akan bertanya-tanya, “Mengapa ini terjadi?” atau “Kapan ini akan berakhir?” Surat Yakobus membukakan kita untuk tidak meratapi ujian kehidupan, tetapi mensyukuri hasil akhirnya di dalam Tuhan.
Pertama-tama, Yakobus mengajarkan bahwa keadaan yang sepertinya tidak baik pun sebenarnya ada keuntungan rohani di baliknya (ay. 2). Tuhan menggunakan setiap proses kehidupan untuk membentuk kita menjadi semakin baik di hadapan-Nya. Jadi, ujian kehidupan bukan tanda Allah meninggalkan kita, tetapi justru tanda Allah sedang memproses kita.
Itulah sebabnya, kita perlu berdoa ketika menghadapi masalah. Kita juga perlu menenangkan diri dan tidak menyalahkan diri atau siapapun, serahkan segalanya pada kehendak dan rencana Tuhan. Setelah kita melakukan langkah pertama ini, barulah kita bisa menapaki jalan hidup yang penuh harapan.
Yakobus menjelaskan, bahwa karakter yang terbentuk melalui ujian iman menghasilkan ketekunan, dan pada akhirnya kita akan memperoleh buah yang matang (ay. 3-4; Rm. 5:3-5). Maka dari itu, janganlah kita selalu mundur jika menghadapi kesulitan hidup. Milikilah iman yang kuat di tengah ketidakpastian hidup dan doa-doa yang tampaknya belum terjawab (Ibr. 11:1). Dengan begitu, kita akan beralih dari sekadar “tahu tentang Tuhan” menjadi “mengalami Tuhan.” Tetaplah melekat pada Allah di tengah pergumulan (Ayb. 23:10). Amin.
REFLEKSI
Iman di dalam Tuhan adalah perjalanan yang luar biasa di dalam gelap (Oswald Chambers)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa saja yang bisa membuat seseorang terus tenggelam dalam ratapan atau penyesalan setelah dia mengalami badai kehidupan? Sebagai orang percaya, bagaimana Anda akan mengatasinya?
- Bagaimana menerapkan khotbah ini dalam mendidik anak-anak atau orang-orang yang ada di bawah tanggung jawab pelayanan Anda?
REFERENSI
2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun. (Yak. 1:2-4)
3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Rm. 5:3-5)
1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibr. 11:1)
Karena Ia tahu jalan hidupku;
seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. (Ayb. 23:10)
