Ibadah Umum II, 1 Maret 2026. Oleh: Ev. Lim Hendra.
Di dalam kehidupan sehari-hari, kemungkinan bisa ada orang-orang di sekitar kita yang meyakiti hati kita. Jika sakit hati itu terus kita simpan, maka kita sendirilah yang akan menderita. Itulah sebabnya, Alkitab meminta kita untuk mengampuni.
Yusuf adalah seorang yang diperlakukan secara semena-mena oleh saudara-saudaranya. Sekitar 20-an tahun kemudian, dia menjadi seorang pembesar di Mesir. Suatu ketika, saudara-saudaranya bertemu dengan dia dan pada saat itu Yusuf bisa dengan bebas membalaskan dendamnya. Namun yang terjadi, Yusuf malah mengampuni mereka (baca: Kejadian 50).
Apa yang dilakukan Yusuf itu menunjukkan imannya. Pertama, beriman bahwa pembalasan adalah milik Allah (ay. 19; Rm. 12:19). Tuhan meminta kita untuk mengampuni, bukan membalas (Kol. 3:13). Inilah yang dilakukan oleh Yesus ketika Dia disalib (Luk. 23:34a).
Kedua, beriman bahwa kedaulatan Allah sanggup mendatangkan kebaikan di balik keburukan (ay. 20). Apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita, jangan pernah memandang diri kita sebagai korban keadaan. Tuhan mampu untuk mengubahnya menjadi kebaikan.
Kristus telah memberikan pengampunan di salib, sehingga kita pun bisa memberikan pengampunan kepada orang lain. Marilah kita keluar dari kebencian yang ada di dalma hati kita dengan datang kepada Tuhan. Amin.
REFLEKSI
Pengampunan bukanlah tindakan sesekali, tetapi sikap yang permanen (Martin Luther)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa dampaknya jika seseorang terus menyimpan sakit hatinya dengan orang lain?
- Apakah ada kepahitan yang kita pendam terkait orang-orang di sekitar kita? Berdoalah pada Tuhan supaya kita dimampukan untuk mengampuni mereka.
REFERENSI
15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: ”Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.” 16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: ”Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: 17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. 18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: ”Kami datang untuk menjadi budakmu.” 19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: ”Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? 20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya. (Kej. 50:15-21)
Yesus berkata: ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk. 23:34a)
Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. (Rm. 12:19)
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kol. 3:13)
