Ibadah Umum I, 12 Desember 2025. Oleh: Pdt. Chandra Wim.
Alkitab bukan hanya imajinasi, tetapi catatan tentang apa yang terjadi di dunia. Sebaliknya, Alkitab juga bukan hanya mencatat sejarah dunia, tetapi juga bayangan Allah yang menginginkan dunia itu seperti apa. Maka, kita harus membaca Alkitab bukan hanya untuk mengerti isinya, tetapi juga supaya kita bisa memandang dunia dengan cara yang benar.
Damai (Ibr. syalom; Yun. eirene) artinya bukan sekadar tidak ada konflik, tetapi juga utuh, penuh, sejahtera, dan selamat. Di dalam Alkitab, keselamatan ada tiga bagian, yaitu damai dengan Allah, dengan sesama, juga dalam diri (damai di hati).
Ketika Tuhan mengirim Anak-Nya ke dunia, kedamaian terjadi di bumi dan di surga (Luk. 2:14; 19:38). Kehadiran Sang Raja Damai menjadikan kedamaian juga terjadi di bumi, yang berada dalam kegelapan. Kita bisa membaca bahwa Yesus lahir ketika Raja Herodes berkuasa dan banyak anak dibunuh (Mat. 2:1). Bahkan, Yesus sendiri mengalami penderitaan selama hidup di dunia, hingga disalib.
Jadi, dibutuhkan mata iman untuk dapat melihat kedamaian yang sedang Allah kerjakan di dunia yang jauh dari kedamaian ini. Alkitab menyatakan, di tengah dunia yang sedang bergejolak ini, Yesus mewujudkan kedamaian yang dinanti-nantikan manusia. Dia datang membawa damai di hati sekarang ini serta damai di langit dan bumi yang baru kelak (Why. 7:9-10). Jadi, di tengah segala keadaan yang sulit, teruslah berpengharapan pada damai dari Tuhan. Amin.
REFLEKSI
Kedamaian bertakhta ketika Tuhan bertakhta (Julian of Norwich)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa saja yang bisa membuat seseorang tidak merasakan damai dalam kehidupan modern sekarang ini? Apakah itu juga bisa dialami oleh orang percaya?
- Bagaimana kita bisa membedakan antara damai yang diberikan dunia dengan damai yang diberikan Allah?
REFERENSI
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Luk. 2:14)
Kata mereka: ”Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19:38)
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem (Mat. 2:1)
9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. 10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru:
”Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Why. 7:9-10)
