Kristus yang Mulia di Tengah Dunia yang Gelap (Mrk. 9:2-13)

Ibadah Umum I, 15 Februari 2026. Oleh: Pdm. Tomy Handaka

Transfigurasi merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam kehidupan Yesus di dunia. Peristiwa ini terjadi sekitar enam hari setelah para murid mengakui bahwa Yesus adalah Mesias. Ketika itu, di gunung yang tinggi, Yesus tiba-tiba berubah rupa di depan Petrus, Yakobus, dan Yohanes.

Yesus berpakaian putih yang kilaunya melampaui apa pun di dunia ini. Ini menunjukkan kemuliaan Yesus yang sebenarnya di balik kesederhanaan dalam kemanusiaan-Nya (Yoh. 1:14) dan gambaran kemuliaan ketika Dia datang kembali (2 Ptr. 1:16-18). Kemudian, di situ ada juga Musa dan Elia yang menegaskan bahwa Yesus adalah penggenapan dari semua nubuat dalam kitab-kitab Taurat dan Para Nabi.

Ada beberapa pelajaran dari kisah ini. Pertama, Yesus adalah Anak Allah yang mulia. Walaupun dunia merendahkan-Nya, Dia tetap Anak Allah yang mulia. Kedua, kemuliaan yang sejati tidak meniadakan kesengsaraan, tetapi justru mengatasinya. Petrus ingin berlama-lama menikmati kemuliaan di gunung itu. Namun, Yesus justru mengajaknya turun karena Dia harus melewati kesengsaraan sebelum kemuliaan dari Bapa dinyatakan sepenuhnya. Tiada mahkota tanpa salib. Ketiga, Yesus adalah pusat hidup kita. Suara Bapa menegaskan bahwa murid-murid-Nya harus mendengarkan Yesus. Jadi, pengajaran dan teladan kehidupan Yesus memiliki otoritas Bapa.

Di tengah dunia yang semakin gelap, marilah kita terus memandang pada Yesus. Kemuliaan-Nya mengatasi dunia yang gelap. Inilah jaminan kemenangan kita. Amin.

REFLEKSI

Jalan penderitaan adalah jalan menuju kemuliaan (Leon Morris)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa saja di dalam hidup sehari-hari yang bisa mengaburkan pandangan kita terhadap kemuliaan Yesus?
  2. Bagaimana bagian ini membentuk cara pandang dan kekuatan kita ketika menghadapi penderitaan?

REFERENSI

2 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus dengan Yakobus dan saudaranya Yohanes, menyendiri ke sebuah gunung yang tinggi. Di depan mata mereka Yesus berubah rupa. 3 Pakaian-Nya menjadi putih berkilauan. Tidak ada seorang penatu pun di dunia ini yang dapat mencuci seputih itu. 4 Kemudian ketiga orang pengikut-Nya itu melihat Yesus bercakap-cakap dengan Elia dan Musa. 5 Maka Petrus berkata kepada Yesus, ”Pak Guru, enak sekali kita di sini. Baiklah kami mendirikan tiga kemah: satu untuk Bapak, satu untuk Musa, dan satu lagi untuk Elia.” 6 Sebenarnya Petrus tidak tahu apa yang ia harus katakan, sebab ia dengan kedua temannya sedang ketakutan sekali.

7 Kemudian awan meliputi mereka dan dari awan itu terdengar suara yang berkata, ”Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Dengarkan Dia!” 8 Cepat-cepat mereka melihat sekeliling mereka, dan tidak lagi melihat siapa pun di situ bersama mereka, kecuali Yesus saja. 9 Waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus memperingatkan mereka, ”Jangan memberitahukan kepada siapa pun apa yang kalian lihat tadi sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari kematian.”

10 Mereka mentaati pesan itu, tetapi di antara mereka sendiri mereka mulai mempercakapkan apa maksud Yesus dengan ”hidup kembali dari kematian”. 11 Maka mereka bertanya kepada-Nya, ”Mengapa guru-guru agama berkata bahwa Elia mesti datang terlebih dahulu?”

12 Yesus menjawab, ”Elia memang datang terlebih dahulu untuk membereskan segala sesuatu. Tetapi bagaimanakah halnya dengan Anak Manusia? Apa sebab di dalam Alkitab tertulis bahwa Ia akan banyak menderita dan dihina orang? 13 Tetapi Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, dan orang-orang memperlakukan dia semau mereka. Itu cocok dengan yang sudah tertulis dalam Alkitab tentang dirinya.” (Mrk. 9:2-13 BIMK)

About the author

Leave a Reply