Ibadah Umum I, 24 Agustus 2025. Oleh: Pdt. Tjeng Kiem Gwan.
Kita memerlukan keteguhan supaya pengharapan kita akan mudah tergeser. Pengharapan juga harus diarahkan kepada Tuhan, karena di luar itu, pengharapan kita tidak berdasar.
Bagaimana caranya supaya kita memiliki keteguhan? Pertama, mewaspadai para penyesat (2Yoh. 8). Jemaat yang dilayani oleh Rasul Yohanes menghadapi banyak penyesat yang berusaha mengalihkan iman mereka (2Yoh. 7). Itulah sebabnya, Yohanes menasihati mereka supaya tetap waspada karena ketika mereka meninggalkan Kristus, mereka akan terhilang (2Yoh. 9).
Kedua, menghadap Tuhan dengan tulus ikhlas (Ibr. 10:22). Ingatlah bahwa kita memiliki Bapa di surga. Kemudian sebagai ciptaan yang baru, kita harus memiliki relasi dengan-Nya.
Ketiga, teguh dalam pengharapan kepada Allah yang setia (Ibr. 10:23-24). Mungkin kita pernah mengalami tekanan yang begitu besar sehingga seolah-olah tidak ada tempat untuk berpegang. Namun, Allah yang setia sanggup menopang kita.
Keempat, jangan menjauh dari ibadah bersama (Ibr. 10:25). Sebaliknya, kita harus saling menguatkan dan mendoakan.
Teruslah berpegang pada pengharapan iman kita. Pengharapan pada Allah yang hidup adalah ya dan amin, Dia pasti menggenapi janji-janji-Nya. Amin.
REFLEKSI
Pandanglah bukan pada pengharapan kita, melainkan pada Kristus, sumber pengharapan (Charles Spurgeon)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa saja yang biasa melemahkan pengharapan orang percaya di masa kini? Bagaimana Anda akan mengatasinya?
- Bagaimana seharusnya sikap kita jika sesuatu yang kita harapkan tidak terwujud?
REFERENSI
7 Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus. 8 Sebab itu, jagalah jangan sampai kalian kehilangan apa yang sudah kami usahakan untuk kalian. Berusahalah supaya kalian menerima dari Allah upahmu seluruhnya. 9 Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. (2Yoh. 7-9)
22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. 23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. 24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. 25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (Ibr. 10:22-25)
