Semangat Bersemi di Situasi Pandemi (Luk. 2:1-7)

Ibadah Minggu, 5 Desember 2021 (Sore)

Oleh Pdt. Martin Stefanus (GBT Jemaat Bukit Sion Tangerang)

Perjalanan Yusuf dan Maria ke Betlehem merupakan perjalanan yang penuh perjuangan dan melelahkan. Saat itu, Mari dalam kondisi hamil tua. Fasilias pun sangat terbatas. Mereka harus menempuh jarak sejauh kurang lebih 160 kilometer. Oleh sebab itu, diperlukan semangat untuk sampai tujuan. Ada beberapa hal yang patut kita teladani dari mereka.

Pertama, semangat kebersamaan. Sebenarnya, perjalanan itu juga dilakukan oleh banyak orang. Namun dengan kondisi Maria yang sedang hamil tua, perjalanan tersebut sangat berisiko. Mereka melakukannya karena taat pada pemerintah (Rm. 13:1), yang memerintahkan sensus. Demikian pula, kita harus taat pada pemerintah. Misalnya, mematuhi protokol kesehatan pada masa pandemi ini.

Kedua, semangat saling menerima. Setibanya di Betlehem, mereka tidak mendapatkan tempat yang mereka harapkan. Bukankah ini juga sering terjadi pada kita? Ada harapan yang sudah lama kita perjuangkan, tetapi pada akhirnya kandas. Namun marilah kita teladani Yusuf dan Maria yang tetap bersemangat pada saat itu. Mereka juga semakin kompak, sehati, dan saling melengkapi. Ada kerelaan berkorban yang mereka tunjukkan.

Ketiga, semangat dalam menerima keadaan. Walaupun hanya tersedia palungan (Luk. 2:12), mereka tidak bertanya dan menawar kepada Tuhan. Tetapi, mereka menerima semua keadaan sebagai pemberlakuan kehendak Tuhan. Inilah yang harus kita pelajari juga dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan yang datang silih berganti dan terus bertambah, belajarlah untuk menerimanya sebagai kehendak Tuhan. Amin.

REFLEKSI

Jika kamu tahu bahwa Tuhan mengasihimu, maka kamu jangan sekali-kali mempertanyakan tuntunan-Nya. Ketika Dia memberikan tuntunan, kamu tidak hanya memperhatikan, membicarakan, atau menyanggahnya. Tetapi, kamu harus menaatinya (Henry Blackaby)

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Percayakah bahwa Tuhan tetap mengasihi kita walaupun keadaan tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan? Jelaskan.
  2. Apa yang bisa kita lakukan untuk dapat rela menerima keadaan sebagai kehendak Tuhan? Apa yang akan terjadi ketika kita sudah ada di titik itu?

AYAT ALKITAB TERKAIT

1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. 2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. 3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. 4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem,  —  karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud  — 5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. 6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. (Luk. 2:1-7)

Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. (Rm. 13:1)

Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. (Luk. 2:12)

About the author

Leave a Reply