Ibadah Umum I, 14 Desember 2025. Oleh: Pdp. Heni Susiani.

Di dalam kitab ini, tercatat Habakuk yang berdialog dengan Tuhan mengenai kejahatan dan di dunia. Habakuk mempertanyakan Tuhan, yang seolah-olah membiarkan semuanya. Bertanya kepada Tuhan ataupun mengeluhkan keadaan, asal dilakukan dengan rendah hati dan dengan motivasi untuk mengenal kehendak Tuhan, bukanlah dosa.

Ada beberapa respons Habakuk yang bisa kita pelajari. Pertama, Habakuk menanti dengan tenang (ay. 16). Tenang bukan berarti tidak takut, tetapi memilih untuk percaya walaupun takut. Iman tidak selalu menghapuskan ketakutan, tetapi akan membawa ketakutan itu kepada Tuhan (Mzm. 62:2).

Kedua, Habakuk beriman dalam segala keadaan (ay. 17). Dari kisah Habakuk, kita belajar bahwa iman melebihi ketakutan. Seperti Habakuk, kita bisa percaya dan bersukacita bukan karena keadaan berubah, tetapi karena Tuhan tidak berubah (Mzm. 46:2-3).

Di tengah kondisi yang tidak mengenakkan, Tuhan Yesus lahir ke dunia. Inilah yang akan memberikan kekuatan bahwa Dia akan menyertai kita di tengah-tengah kesesakan hidup.

Ketiga, bersukacita di dalam Tuhan (ay. 18). Keempat, percaya pimpinan Tuhan (ay. 19). (Kedua poin ini dibahas dalam ibadah Umum II)

Amin.

REFLEKSI

Sukacita di dalam Tuhan adalah sukacita yang paloing membahagiakan (Charles Spurgeon)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apakah bedanya antara mencari sukacita di dalam Tuhan dengan melarikan diri dari masalah?
  2. Apa saja yang bisa kita lakukan dalam menanti jawaban Tuhan atas permasalahan yang kita hadapi?

REFERENSI

16      Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku,

mendengar bunyinya, menggigillah bibirku;

tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal,

dan aku gemetar di tempat aku berdiri;

namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan,

yang akan mendatangi bangsa

yang bergerombolan menyerang kami.

17      Sekalipun pohon ara tidak berbunga,

pohon anggur tidak berbuah,

hasil pohon zaitun mengecewakan,

sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,

kambing domba terhalau dari kurungan,

dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,

18      namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN,

beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

19      ALLAH Tuhanku itu kekuatanku:

Ia membuat kakiku seperti kaki rusa,

Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Hab. 3:16-19)

Hanya dekat Allah saja aku tenang,

dari pada-Nyalah keselamatanku. (Mzm. 62:2)

 

2      Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan,

sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.

3      Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah,

sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; (Mzm. 46:2-3)

About the author

Leave a Reply