Ibadah Natal II, 25 Desember 2024. Oleh: Pdt. Daud Soesilo.
Bagian ini adalah satu dari empat kidung Natal dalam Injil Lukas (1:46-55 – Magnificat/”Jiwaku memuliakan Tuhan”; 1:68-79 – Benedictus/”Terpujilah Tuhan”; 2:14 – Gloria in excelsis deo/”Kemuliaan bagi Allah”; 2:29-32 – Nunc dimittis/”Sekarang biarkan ‘ku pergi”). Pada waktu itu, bangsa Israel dijajah oleh Roma dan ditindas oleh raja boneka, yaitu Herodes (1:5). Tuhan pun bertindak. Bukan melalui Raja Herodes, tetapi melalui seorang imam yang sudah tua dan istrinya mandul.
Itulah sebabnya, nyanyian ini merupakan sambutan atas kelahiran Yohanes. Sehingga Zakharia pun berseru, “Terpujilah Tuhan” (ay. 1; Mzm. 41:14). Bagian pertama (ay. 68-75) menekankan nabi-nabi Perjanjian Lama. Sementara bagian kedua (ay. 76-79) menekankan pada Yohanes Pembaptis.
Anak yang lahir itu memiliki tugas khusus, yaitu pembuka jalan/perintis yang mempersiapkan jalan bagi Sang Surya (ay. 76). Mereka yang ada dalam bayang-bayang maut, akan diterangi oleh Kristus, Sang Surya.
Pada masa kini, dosa semakin merajalela. Hal yang baik diubah menjadi hal yang buruk (misalnya penyalahgunaan media sosial dan teknologi kecerdasan buatan). Apa yang harus kita lakukan? Bertobatlah, karena keselamatan hanya ada dalam Kristus (Rm. 6:23). Hiduplah mengikuti terang Tuhan supaya kita menerima damai sejahtera (syalom). Benedictus menghubungkan penyelamatan pada damai sejahtera. Tidak ada penyelamatan tanpa damai sejahtera. Amin.
REFLEKSI
Tidak ada kedamaian yang universal sebelum Raja Damai muncul (J. C. Ryle)
PERTANYAAN DISKUSI
- Apa saja dampak yang ditimbulkan (selain maut) jika seseorang terus bermain-main dengan dosa?
- Hal-hal apakah yang biasanya membuat orang Kristen kurang merasakan damai sejahtera? Bagaimana cara Anda untuk mengatasinya?
REFERENSI
67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya:
68 ”Terpujilah Tuhan, Allah Israel,
sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,
69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita
di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,
70 —seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala
oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus—
71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita
dan dari tangan semua orang yang membenci kita,
72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita
dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus,
73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita,
74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh,
dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,
75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.
76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi;
karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya,
77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka,
78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita,
dengan mana Ia akan melawat kita,
Surya pagi dari tempat yang tinggi,
79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” (Luk. 1:67-79)
Terpujilah Tuhan, Allah Israel,
dari selama-lamanya sampai selama-lamanya!
Amin, ya amin. (Mzm. 41:14)
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm. 6:23)
