Ibadah Umum I, 23 November 2025. Oleh: Pdm. Tomy Handaka.

Konsep Yesus sebagai Allah sejati sekaligus manusia sejati seolah bertentangan dengan akal pikiran. Namun jika kita memahami Alkitab, konsep ini justru yang paling masuk akal, konsisten, serta menguatkan iman.

Dalam hikmat-Nya, Allah mengutus Anak-Nya ke dunia pada saat yang cocok dan pas (frasa “setelah genap waktunya”). Anak di sini bukan dalam arti biologis, melainkan menunjukkan keserupaan natur. Jadi, Yesus itu berbeda pribadi dengan Bapa tetapi sama dalam kuasa, kekudusan, dan keilahian (Yoh. 1:1).

Di sisi lain, Yesus “lahir dari seorang perempuan” dan “takluk kepada hukum Taurat.” Artinya, Yesus juga manusia sejati. Karena tanpa dosa, Dia mampu menggenapi seluruh tuntutan Taurat dan menanggung hukuman dosa manusia (Ibr. 7:26).

Dalam inkarnasi (firman yang menjadi daging), Yesus tetap Allah yang mahakudus, mahakuasa,  dan mahatahu. Namun, Dia juga menjadi manusia yang sesungguhnya dengan segala keterbatasan natur manusiawinya dan hidup penuh ketaatan kepada Bapa-Nya  (Flp. 2:7).

Kedatangan Yesus ke dunia ini menjembatani antara Allah yang kudus dengan manusia yang cemar, antara kedamaian di surga dengan penderitaan di dunia, serta antara anugerah keselamatan-Nya dengan pergumulan hidup kita di dunia. Allah tidak jauh dari kita. Imanuel, “Allah beserta kita” (Mat. 1:23) bukan hanya kata-kata indah, tetapi kenyataan. Amin.

REFLEKSI

Inkarnasi bukan hanya pada saat perayaan Natal, tetapi seumur hidup. Perayaan Natal datang dan pergi, tetapi terang Natal bersinar selamanya (Vassilos Papavassilou)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa saja keraguan terhadap keilahian dan kemanusiaan Yesus yang pernah Anda dengar? Bagaimana penjelasannya menurut terang firman Tuhan?
  2. Ada sebagian orang yang berpikir bahwa Yesus hanyalah seorang Guru Agung, bukan Tuhan. Bagaimana tanggapan Anda?

REFERENSI

4 Namun, setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. 5 Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.  (Gal. 4:4-5 TB-2)

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yoh. 1:1)

Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, (Ibr. 7:26)

melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Flp. 2:7)

”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel”—yang berarti: Allah menyertai kita. (Mat. 1:23)

About the author

Leave a Reply