Ibadah Minggu, 7 November 2021 (Sore)

Oleh Ev. Lim Hendra  (STT SAAT)

Ada pepatah yang mengatakan, “Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya.” Pepatah ini menasihati kita untuk tidak buru-buru menghakimi dari penampilan luar seseorang. Sebagian orang cepat berprasangka buruk, yaitu cepat mengkritik orang lain. Terutama jika mereka tidak menyukainya atau orang itu tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

Perintah Tuhan Yesus untuk tidak menghakimi (ay. 1) sering diartikan secara keliru bahwa kita tidak boleh mengkritik atau memperbaiki kesalahan orang lain. Padahal konteksnya, perintah ini hanya menyatakan bahwa kita harus berhati-hati ketika melakukannya (ay. 5). Kita harus terlebih dulu mengeluarkan “balok” kesalahan kita sebelum mengkritik “selumbar” kesalahan orang lain. Istilah balok menggambarkan kesalahan-kesalahan besar sementara istilah selumbar menggambarkan kesalahan-kesalahan kecil.

Terlalu cepat menilai atau mengoreksi orang lain akan membuat kita menjadi orang munafik (ay. 5). Jangan-jangan, letak masalahnya bukan terletak pada diri orang lain namun pada diri kita sendiri. Oleh sebab itu, kita harus mengoreksi diri sendiri terlebih dulu.

Kita tidak boleh cepat-cepat menghakimi atau berburuk sangka (judgmental). Tetapi, kita boleh menilai sesama kita dengan kasih (judge others lovingly). Jika perlu mengkritik orang lain, lakukanlah dengan kasih dan dengan cara yang tepat. Kritik bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membangun. Landasan kasih ini ditekankan oleh Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya (Mat. 7:12; Mat. 22:37-40).

Bagaimana kita dapat menerapkan perintah ini? 1) Keluarkan dulu “balok” dari mata kita (ay. 5). Sadarilah bahwa kita juga penuh kekurangan; 2) Tolonglah sesama kita untuk mengeluarkan “selumbar” dari matanya. Lakukanlah dengan kasih, supaya kita sendiri tidak jatuh (Gal. 6:1); 3) Saling menolong dan peduli. Tidak hanya mau mengoreksi, tetapi juga mau dikoreksi (Gal. 6:2). Amin.

REFLEKSI

Orang yang tidak adil dalam menghakimi sesamanya biasanya adalah orang yang menilai diri mereka sendiri terlalu tinggi (Charles Spurgeon)

PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN

  1. Apa saja perbedaan antara kritik yang bersifat membangun dengan kritik yang bersifat menjatuhkan?
  2. Apa yang harus kita lakukan supaya kritik kita diterima orang lain dan kemudian membangun dirinya?

AYAT ALKITAB TERKAIT

1  “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Mat. 7:1-5)

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 7:12)

37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 22:37-40)

1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. 2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. (Gal. 6:1-2)

About the author

Leave a Reply