Pengharapan yang Tidak Pudar (Rm. 5:1-5; 15:13)

Ibadah Umum II, 26 Oktober 2025. Oleh: Ev. Lim Hendra.

Tanpa pengharapan, manusia tidak bisa bertahan dalam hidupnya. Pengharapan bisa pudar karena penderitaan yang tidak kunjung berakhir dan penantian yang tidak kunjung terwujud. Paulus, seorang rasul yang luar biasa pun, pernah mengalami keputusasaan ketika menghadapi beratnya beban pelayanan. Namun, dia menyandarkan pengharapannya kepada Allah (2Kor. 1:8-9). Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Paulus untuk mendapat pengharapan sejati.

Pertama, bersumber pada Allah (Rm. 15:13). Jangan sandarkan pengharapan kita pada manusia ataupun situasi di sekitar kita karena pengharapan itu pasti akan pudar. Jadi, pengharapan berbeda dengan sekadar optimisme karena berakar pada kesetiaan Allah. Pengharapan sejati tidak bergantung pada situasi yang ada di sekitar kita.

Kedua, diperoleh dalam iman (Rm. 15:13; 5:1-2). Tanpa Kristus, kita tidak akan memperoleh pengharapan (Ef. 2:12). Namun di dalam Kristus, kita akan senantiasa memperoleh pengharapan dan mengalami perubahan hidup.

Ketiga, memenuhi kita dengan segala sukacita, damai sejahtera, dan kekuatan Roh Kudus (Rm. 5:13). Apa yang diberikan Allah ini melampaui kesulitan-kesulitan yang ada di dunia ini. Inilah yang dialami oleh jemaat di Roma, yang waktu itu mengalami berbagai kesengsaraan tetapi tetap bertumbuh dalam pengharapan (Rm. 5:3-5). Amin.

REFLEKSI

Jika engkau tidak berpengharapan maka engkau tidak akan mengetahui apa yang ada di balik pengharapan itu (Clement dari Aleksandria)

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Hal-hal apa saja yang pernah membuat pengharapan Anda memudar atau bahkan hilang?
  2. Apa saja yang seharusnya kita lakukan dalam masa menunggu supaya pengharapan itu tetap kuat?

REFERENSI

1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Rm. 5:1-5)

Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan. (Rm. 15:13)

8 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami.  9 Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. (2Kor. 1:8-9)

bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. (Ef. 2:12)

About the author

Leave a Reply